Bandung, MEDIA JURNAL INVESTIGASI— Di tengah riuh persoalan kualitas pendidikan anak usia dini di Indonesia, sebuah gerakan senyap justru lahir dari daerah—tenang, namun sarat daya ubah. BAZNAS Kabupaten Majalengka tampil melampaui peran tradisionalnya, menjelma sebagai jembatan strategis yang menghubungkan kepentingan lokal dengan jejaring global.
Momentum penting itu terpatri dalam agenda Koordinasi Temu Calon Mitra Tahun 2026 yang digelar di Bandung, Selasa (14/4/2026). Dalam forum tersebut, Ketua BAZNAS Majalengka, Agus Asri Sabana, bersama Wakil Bupati Majalengka, Dena Muhammad Ramdhan, membuka ruang kolaborasi internasional dengan SEAMEO CECCEP—sebuah langkah yang tidak lazim, namun visioner.
Di titik inilah BAZNAS menegaskan transformasinya. Ia tidak lagi sekadar institusi pengelola zakat, melainkan aktor penggerak perubahan sosial, katalisator yang menyatukan energi daerah dengan kekuatan global demi memperbaiki fondasi paling awal pembangunan manusia: pendidikan anak usia dini (PAUD).
Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Majalengka dan SEAMEO CECCEP menjadi penanda penting—bukan sekadar formalitas administratif, melainkan deklarasi komitmen untuk membangun sistem PAUD yang lebih kokoh dan memperkaya kualitas pola pengasuhan anak secara berkelanjutan.
Direktur SEAMEO CECCEP, Vina Andriany, memberikan apresiasi atas keberanian dan visi Majalengka. Ia menilai langkah ini sebagai bentuk kesungguhan daerah dalam menembus batas-batas konvensional, diperkuat oleh dukungan penuh Bupati Eman Suherman yang membuka ruang kolaborasi lintas negara—sebuah praktik yang masih jarang dilakukan di tingkat daerah.
Kehadiran lintas sektor—mulai dari Dinas Pendidikan, DP3AKB, hingga Dinas Sosial—menegaskan bahwa pendidikan anak bukan lagi isu sektoral, melainkan agenda bersama yang menyentuh masa depan bangsa.
Agus Asri Sabana menegaskan arah baru yang tengah dibangun BAZNAS.
"Kami ingin hadir lebih luas, tidak hanya dalam pengelolaan zakat, tetapi juga dalam mendukung pembangunan manusia sejak usia dini. Ini adalah investasi masa depan," ujarnya.
Langkah Majalengka hari ini adalah sinyal kuat: bahwa daerah mampu melampaui batas geografis dan struktural, membangun jejaring global, serta mengambil peran strategis dalam agenda besar pendidikan nasional. Di tengah tantangan kualitas sumber daya manusia, kolaborasi semacam ini bukan lagi opsi—melainkan keniscayaan.
Kini, harapan menggantung pada implementasi. Jika berhasil, Majalengka bukan hanya menjadi pelaku perubahan, tetapi juga referensi nasional dalam membangun ekosistem PAUD yang inklusif, berkelanjutan, dan berkelas dunia.

