Majalengka, Media Jurnal Investigasi – Upaya menjaga kelestarian kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak lepas dari peran masyarakat di desa-desa penyangga. Salah satu kekuatan yang turut berkontribusi dalam pencegahan dan penanganan karhutla adalah Paguyuban Silihwangi Majakuning melalui Kelompok Tani Hutan (KTH) dan Masyarakat Peduli Api (MPA).
Sejak dibentuk pada 2021, gerakan MPA yang diinisiasi Paguyuban Silihwangi Majakuning terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan, terutama saat memasuki puncak musim kemarau ketika vegetasi mengering dan risiko kebakaran meningkat.
Gerakan tersebut melibatkan masyarakat di wilayah penyangga Gunung Ciremai yang tersebar di Kabupaten Kuningan, Cirebon, hingga Majalengka.
Kesiapsiagaan warga juga diperkuat melalui pelatihan penggunaan peralatan pemadaman yang dilaksanakan di tiga kabupaten. Dalam kegiatan tersebut, anggota MPA mendapatkan pelatihan langsung bersama petugas pemadam kebakaran (Damkar) dan instansi terkait.
Pelatihan tidak hanya mencakup pengoperasian mesin penyemprot air bertekanan sedang, tetapi juga pembentukan kru pemadaman yang terdiri dari nozzleman, helper, dan operator. Selain itu, anggota dilatih mengenai pola komunikasi tim, penggunaan alat komunikasi, serta aba-aba di lapangan agar penanganan titik api dapat berlangsung lebih terkoordinasi.
Ketua MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar Juniar Arif, S.Hut., mengatakan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan memiliki posisi strategis dalam mendeteksi kebakaran sejak dini.
“Ketika ada titik api, mereka yang paling awal tahu. Karena itu sejak 2021, siang juga tidak peduli malam hari kami selalu ikut mengantisipasi karhutla, aktif mendukung patroli TNGC, dan merawat sekat bakar,” kata Nandar.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat selama ini didorong oleh kesadaran bahwa pencegahan merupakan langkah penting untuk melindungi kawasan hutan. Kecepatan mengetahui kemunculan titik api dapat menentukan keberhasilan penanganan sebelum kebakaran meluas.
Swadaya Masyarakat, Peralatan Terus Diperkuat
Pada awal pembentukan MPA, keterbatasan peralatan menjadi salah satu kendala yang dihadapi masyarakat. Pengalaman melakukan pemadaman secara manual kemudian mendorong kelompok untuk berinovasi dan menyediakan perlengkapan yang lebih efektif melalui upaya swadaya.
Selain peralatan pemadaman, Paguyuban Silihwangi Majakuning menyediakan penyemprot punggung atau water jet shooter, kendaraan pengangkut air, serta kendaraan khusus untuk membawa peralatan menuju lokasi yang sulit dijangkau kendaraan besar.
Dukungan tersebut memungkinkan tim membawa selang pemadam hingga ke kawasan hutan yang memiliki akses terhadap sumber air, seperti embung atau tempat penampungan air.
Dengan perlengkapan yang lebih memadai, masyarakat diharapkan dapat mendukung upaya penanganan awal ketika menemukan titik api sekaligus membantu petugas dalam kegiatan pencegahan dan patroli kawasan.
“Harapan kami kebakaran jangan sampai terjadi lagi. Tetapi antisipasi harus dilakukan sejak dini. Kalau titik api masih sedikit, harus cepat ditangani karena kalau sudah menyebar akan berbeda ceritanya dan jauh lebih sulit dipadamkan,” ujar Nandar.
1.076 Anggota KTH Jadi Kekuatan di Lapangan
Paguyuban Silihwangi Majakuning berawal dari Kelompok Tani Hutan yang dibentuk pada 2021 dalam rangka kemitraan konservasi. Selain mendukung perlindungan kawasan, kelompok ini juga menjalankan fungsi pengawetan dan pemanfaatan hutan secara berkelanjutan.
Nandar menyebut jumlah anggota KTH yang tersebar di sejumlah desa penyangga Gunung Ciremai mencapai 1.076 orang. Jumlah tersebut menjadi potensi besar dalam memperkuat gerakan masyarakat untuk menjaga kawasan hutan.
Sebaran anggota di wilayah Kuningan, Cirebon, dan Majalengka juga mendukung koordinasi antarkelompok ketika ditemukan potensi kebakaran. Dengan keterlibatan masyarakat setempat, informasi mengenai titik api diharapkan dapat diterima lebih cepat sehingga langkah penanganan bisa segera dilakukan.
Meski demikian, Nandar menegaskan bahwa kemampuan masyarakat yang dibangun melalui swadaya tetap membutuhkan dukungan pemerintah, khususnya ketika menghadapi kebakaran berskala besar.
“Kami hanya sekelompok masyarakat yang modal seadanya secara swadaya, tentu saja dalam kejadian kebakaran cukup besar seperti sekarang ini peran serta pemerintah yang bisa diandalkan,” tambahnya.
Sinergi Lintas Sektor Menjaga Ciremai
Penanganan karhutla di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai membutuhkan koordinasi berbagai unsur, mulai dari BPBD Kabupaten Kuningan, BPBD Provinsi Jawa Barat, dukungan BPBD daerah sekitar, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, TNI, Polri, petugas Damkar, Satpol PP, Perhutani, Tagana, hingga relawan dan masyarakat setempat.
Dalam upaya penanganan tersebut, kepemimpinan dan koordinasi pemerintah daerah menjadi bagian penting untuk menyatukan sumber daya, personel, serta peralatan yang dibutuhkan di lapangan.
Di sisi lain, masyarakat tetap memegang peran penting dalam upaya pencegahan melalui patroli, pemeliharaan sekat bakar, deteksi dini, dan pelaporan apabila menemukan indikasi kebakaran.
Gerakan konservasi Paguyuban Silihwangi Majakuning juga diarahkan agar tidak berhenti pada pemadaman api. Kegiatan penanaman dan upaya pelestarian lingkungan terus menjadi bagian dari komitmen menjaga keseimbangan ekosistem Gunung Ciremai.
Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi, kelestarian Ciremai bukan hanya tanggung jawab petugas, melainkan kepentingan bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh pihak.
Melalui semangat gotong royong, kesiapsiagaan, dan dukungan lintas sektor, masyarakat berharap ancaman karhutla dapat dicegah sedini mungkin sehingga hutan Gunung Ciremai tetap terjaga bagi generasi mendatang.
Dari Masyarakat, Oleh Masyarakat, Untuk Lestari Ciremai.
Wiens/Ppwi


