Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates
{{ date }}
{{ time }}
DIGITAL CLOCK with Vue.js

Pendiri Dayak Hindu-Buddha Bumi Segandu Losarang Wafat, Tinggalkan Warisan Spiritual dan Lingkungan

ade nur
30 Maret 2026
Last Updated 2026-03-30T08:22:09Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates



INDRAMAYU, Media Jurnal Investigasi — Pendiri Komunitas Dayak Hindu-Buddha Bumi Segandu, Losarang, Kabupaten Indramayu, Paheran Takmad Diningrat, meninggal dunia dan dimakamkan di padepokan yang ia dirikan di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Minggu (29/3/2026). Kepergian sosok yang dikenal sebagai tokoh spiritual dan pelestari lingkungan ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan komunitasnya.


Takmad dikenal sebagai figur sentral dalam komunitas Dayak Losarang yang mengedepankan nilai kasih sayang, kehidupan harmonis dengan alam, serta pelestarian budaya leluhur. Hingga akhir hayatnya, ia tetap memegang teguh ajaran spiritual yang diwariskan kepada para pengikutnya.


Istri almarhum, Bule, mengenang Takmad sebagai sosok penyayang dan penuh perhatian terhadap keluarga. Ia juga mengungkapkan pesan terakhir yang ditinggalkan suaminya.


"Bapak itu orangnya penyayang, beliau berwasiat kepada saya agar menyayangi anak dan cucunya," ujar Bule saat ditemui di kediamannya.


Takmad meninggalkan empat anak dan lima cucu. Bahkan, menurut Bule, almarhum sempat menitipkan harapan kepada tiga cucunya yang masih kecil untuk menjadi penerus di masa depan.


"Bapak nitip ke saya, ada tiga cucu yang jadi penerus bapak. Mereka masih kecil, dua perempuan dan satu laki-laki, dipercaya bisa melihat masa depan," katanya.


Semasa hidup, Takmad dikenal konsisten menjalankan ritual tradisi Jawa seperti nyuguh setiap malam Jumat, serta berbagai praktik spiritual lainnya yang kemudian menjadi bagian dari ajaran komunitas Dayak Hindu-Buddha Bumi Segandu.

Perjalanan hidup Takmad terbilang panjang dan penuh dinamika. Ia pernah menjalani berbagai profesi, mulai dari tukang becak, kuli, hingga awak kapal. Dalam perjalanannya sebagai pelaut, ia bertemu dengan seorang guru silat asal Aceh bernama Midun yang kemudian mengajarkan ilmu bela diri kepadanya.


Pada era 1960 hingga 1970-an, Takmad sempat merantau ke Jakarta, khususnya di wilayah Cilincing, Jakarta Utara. Di sana ia dikenal sebagai ahli pencak silat dan memiliki pengaruh di wilayah tertentu, namun memilih meninggalkan semuanya untuk kembali ke kampung halamannya di Indramayu.


Sekembalinya ke Losarang, Takmad mendirikan Perguruan Silat Serbaguna pada tahun 1973 sebagai wadah pembinaan moral dan spiritual masyarakat. Perguruan tersebut kemudian berkembang dan berubah menjadi komunitas Suku Dayak Hindu-Buddha Bumi Segandu yang dikenal luas hingga saat ini.


Pada tahun 1974, Takmad menikahi Sarini, yang kini dimakamkan berdampingan dengannya di area padepokan Nyi Ratu Kembar. Lokasi padepokan tersebut merupakan hibah dari keluarga mertuanya.


Hingga kini, belum ada keputusan terkait siapa yang akan melanjutkan peran Takmad sebagai pemimpin spiritual komunitas tersebut.


"Belum diobrolkan, belum tahu juga siapa yang bakal meneruskan," pungkas Bule.

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl