Indramayu, Media Jurnal Investigasi - Gelombang penolakan terhadap proyek Revitalisasi Tambak Pantai Utara (Pantura) mencuat di Kabupaten Indramayu, Kamis (2/4/2026), ketika ribuan petambak yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (Kompi) menggelar aksi demonstrasi besar-besaran.
Aksi tersebut melibatkan sekitar 3.100 petambak yang berasal dari empat kecamatan, dengan titik kumpul di kawasan Kuliner Cimanuk sebelum bergerak menuju Pendopo Indramayu sambil menyampaikan orasi secara bergantian.
Penolakan ini dilatarbelakangi kekhawatiran masyarakat pesisir terhadap dampak program yang digagas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang dinilai berpotensi mengancam keberlangsungan mata pencaharian mereka.
Dalam orasinya, perwakilan massa menegaskan bahwa tambak yang selama ini dikelola turun-temurun tidak seharusnya diambil alih, karena menjadi sumber utama penghidupan ribuan keluarga di wilayah tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun Kompi, proyek revitalisasi tersebut akan menyasar sekitar 2.264 hektare lahan tambak, dengan potensi dampak terhadap sekitar 1.000 petambak serta ribuan pekerja yang bergantung pada sektor perikanan.
Kekecewaan warga semakin memuncak setelah mereka mengaku tidak pernah menerima sosialisasi resmi, namun tiba-tiba mendapati adanya pematokan lahan di area tambak yang selama ini mereka kelola.
Ketegangan sempat terjadi di depan Pendopo Indramayu saat massa berusaha menemui Bupati Lucky Hakim, namun tidak berhasil, sehingga memicu aksi dorong-dorongan antara demonstran dan aparat keamanan.
Sementara itu, perwakilan Pemerintah Kabupaten Indramayu menyampaikan bahwa aspirasi masyarakat akan diteruskan, namun menegaskan bahwa keputusan terkait kelanjutan proyek sepenuhnya berada di tangan pemerintah pusat.


