MAJALENGKA, Media Jurnal Investigasi— Di tengah riak kekhawatiran publik terhadap isu energi, suara ketenangan justru mengemuka dari H. Ateng Sutisna, MBA, usai menghadiri Halal Bihalal PKS Kabupaten Majalengka yang digelar pada 11 April 2026 di Saung Nganteur Kahayang, Desa Salagedang, Kecamatan Sukahaji.
Dalam forum yang dihadiri ribuan kader dan simpatisan dari berbagai daerah pemilihan itu, ia menyampaikan pesan yang tidak hanya informatif, tetapi juga reflektif.
“Pemerintah berusaha agar BBM tidak naik dan stok tetap aman. Kami di Komisi XII juga melakukan pengawasan ketat agar tidak terjadi penyalahgunaan subsidi. Jika ada indikasi pelanggaran, silakan laporkan kepada kami, dan akan segera kami tindak lanjuti,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi penegas bahwa stabilitas energi tidak berdiri sendiri, melainkan dijaga melalui kerja kebijakan yang terukur dan pengawasan yang berlapis.
Dalam lanskap ini, masyarakat pun memiliki peran penting sebagai mitra dalam menjaga keseimbangan.
Ia juga memastikan bahwa ketersediaan gas masih dalam kondisi aman untuk beberapa waktu ke depan, seraya mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam kepanikan yang justru kontraproduktif.
“Jangan panik, jangan membeli secara berlebihan. Jika masyarakat bertindak di luar kendali, justru akan merusak sistem distribusi yang sudah dirancang agar kebutuhan energi bisa tercukupi secara merata,” tegasnya.
Lebih dari sekadar imbauan, pesan tersebut mengandung dimensi etis, bahwa konsumsi energi tidak hanya soal kebutuhan individu, tetapi juga tanggung jawab kolektif.
Dalam kerangka itu, Ateng turut mendorong pemanfaatan energi alternatif yang lebih efisien.
“Kalau sudah punya kompor listrik, sebaiknya digunakan. Ini bagian dari upaya kita bersama untuk menjaga keseimbangan energi,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya memperkuat produk-produk dalam negeri sebagai fondasi ketahanan energi jangka panjang.
Upaya tersebut dinilai strategis dalam menghadapi tekanan global sekaligus membangun kemandirian nasional.
Di tengah kompleksitas persoalan energi, pernyataan H. Ateng Sutisna menjadi pengingat bahwa ketenangan, rasionalitas, dan kedisiplinan sosial adalah kunci.
Sebab, energi bukan hanya soal pasokan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah bangsa mengelola harapan dan tanggung jawabnya secara bersama.(*)

