Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates
{{ date }}
{{ time }}
DIGITAL CLOCK with Vue.js

Desa Mundakjaya Kecamatan Cikedung Adakan Budaya Mapag Sri, Lestarikan Budaya Turun Temurun

MASNO
25 Mei 2026
Last Updated 2026-05-25T06:36:52Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates



INDRAMAYU, Media Jurnal Investigasi -

Sarasehan Ngaji Budaya Mapag Sri Mundakjaya Lestari, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, merupakan warisan budaya yang dilaksanakan secara turun temurun, kegiatan tersebut berlangsung di Balai Desa Mundakjaya, Senin, 11 Mei 2026 malam.


Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah budayawan, dalang, dan tokoh adat. Mereka membahas nilai spiritual mapag Sri yang bermakna "menjemput padi". Tradisi ini merupakan wujud rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil panen sekaligus penghormatan terhadap kesuburan alam yang disimbolkan sebagai Dewi Sri (Nyi Pohaci).


Demang Keraton Kacirebonan sekaligus ahli manuskrip kuna, Muhamad Mukhtar Zaedin pada kesempatan itu memaparkan tentang "Mapag Sri" 

apasih mapag sri?, kalau saya ngomongnya di kampus adalah etimologi, tapi kalau disini ya istilahnya bagaimana?



Lebih lanjut beliau mengatakan, banyak pengertian mapag sri, namun secara umum sebagai tradisi masyarakat agraris padahal didaerah pesisir juga ada, kalau mapag sri adalah tradisi adat masyarakat agraris dan juga masyarakat pesisir.


Tradisi ini merupakan wujud rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil panen sekaligus penghormatan terhadap kesuburan alam yang disimbolkan sebagai Dewi Sri, " ucapnya. 


Mapag artinya menjemput, Sri dimaknai sebagai padi, itu yang diterima masyarakat secara umum, tapi dari makna kata sri sama dengan rani atau Sri, ada embel-embel Sri,"tuturnya.


Orang jaman sekarang sri itu digunakan untuk nama anak perempuan, tida apa apa tetapi kita kaitanya dengan pelaksanaan yang kita jalankan padi yang dianggap sri, kita harus mengormati itu,"jelasnya.


Jangan sampai Sri sebagai raja masih disawah sudah di jual itu namanya tidak memperlakukan Sri sebagai raja, mestinya kita ini memperlakukan padi ini sebagai raja, dihormati dijaga dan seterusnya, "tuturnya sambil bercanda dan disambut tepuk tangan warga.


Narasumber lainnya, Elang Panji Jaya Prawira Kusuma, keturunan ke-18 Sunan Gunungjati dari Mertasinga, menyampaikan pentingnya memahami waktu bercocok tanam yang diwariskan leluhur masyarakat Jawa, dimulai dari penentuan hari baik. Seperti, pengolahan sawah, pengaturan aliran air, penyemaian benih, hingga masa tandur, "ucapnya.


Dalam kesempatan itu, Ki Dalang Nur Teja, keturunan ke-15 Sunan Kalijaga sekaligus dalang wayang Keraton Kanoman, menguraikan sekelumit tentang ngaji budaya mundakjaya lestari, yang telah diuraikan dalam acara mapag sri, oleh Muhamad Mukhtar Zaedin tentang mapag sri dan Elang Panji Jaya Prawira tentang tatacara bercocok tanam. 


Ngaji (mengarah kepada Allah yang maha suci) Mahluk yang ada dibawah langit dan di atas bumi adalah mahluk ciptaan Allah SWT, termasuk padi yang telah diuraikan, filosofi peralatan tani dalam ajaran Sunan Kalijaga diantaranya, Pacul, Doran,weluku, dan ani ani. 


Pacul (ngipataken barang kang muncul) atau meratakan gundukan tanah dengan pacul, menggambarkan penyakit hati manusia yang sering muncul seperti, sombong, takabur, iri, dengki dan sebagainya, semua itu akan muncul pada diri kita, "jelasnya.


Lebih lanjut beliau mengatakan, kalau kita tidak bisa meratakanya maka kehidupan kita akan terperdaya oleh nafsu, sirik, iri, dengki, takabur, sombong. Gagang pacul atau doran (aja adoh karo pengeran) jangan jauh dengan Allah SWT, bekerja dan do'a) 


Alat pertanian di samping pacul ada juga weluku arti secara filsolopi gawe lelaku kebaikan, kemanfaatan bagi keluarga dan orang banyak. Garu artinya jaga aja turu ( atau jangan tidur),alat pertanian aran landak akronim dari bagen kengelan asal ke candak. (biar cape asal berhasil) 


Acara dilanjutkan dengan perayaan mapag sri, ratusan orang berkumpul dihalaman kantor balai desa Mundakjaya, membentuk lautan manusia dan antusias warga dengan khidmat lewat doa bersama, sebuah momen spiritual untuk memohon keselamatan sekaligus mengetuk pintu langit agar hasil bumi selalu melimpah ruah di musim panen berikutnya.


Pesta warna yang memanjakan mata, datang membawa hasil panen yang melimpah ruah sebagai simbol nyata rasa syukur kepada sang Pencipta, kemeriahan pesta adat mapag Sri, dentuman gamelan wayang kulit di tengah keramaian, bukan sekadar tontonan melainkan detak jantung dalam ikatan persaudaraan earga Mundakjaya. 


Masyarakat betul-betul tidak lupa sama akarnya, meski dihadapkan pada tantangan modernitas nyala api tradisi ini tidak padam, melalui kolaborasi pemerintah dan masyarakat bikin bumi desa Mundakjaya lebih maju dibawah kepemimpinan Hajah Dariyah. 


Rangkaian acara adat Mapag Sri di Desa Mundakjaya, akhirnya sampai di penghujung kegiatan. Setelah melalui serangkaian prosesi, hingga hiburan rakyat sayang kulit, penutupan ini bukan sekadar tanda berakhirnya sebuah perayaan, melainkan sebuah refleksi mendalam atas rasa syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil panen. 


Pertunjukan wayang kulit, menjadi simbol puncak kegembiraan masyarakat Mundakjaya, sekaligus penutup seluruh ikhtiar para petani selama satu musim tanam. Dengan menyantap hidangan bersama dan menyaksikan wayang, masyarakat Mundakjaya, bersatu padu mengesampingkan perbedaan demi mempererat tali silaturahmi lewat acara adat mapag sri. 


Menutup perayaan ini sekaligus menjadi doa dan harapan agar Dewi Sri, yang sedang jalan jalan maupun dewi Sri yang sedang sanja, senantiasa memberikan kesuburan dan kesejahteraan bagi para petani dengan hasil yang melimpah. 


Dapat disimpulkan bahwa Mapag Sri merupakan bentuk kearifan lokal yang penting dalam mendukung ketahanan pangan khususnya ketahanan pangan khususnya didesa Mundakjaya, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, Dengan menghormati padi sebagai sumber kehidupan. 


Melalui ritual ini, masyarakat Desa Mundakjaya, menunjukkan dedikasi terhadap pelestarian budaya agraris yang selaras dengan alam." Pungkas nya

(Masno) 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl