MAJALENGKA, Media Jurnal Investigasi— Di tengah bentang alam perbukitan yang indah, Desa Nunuk, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka, menyimpan kegelisahan panjang yang tak kunjung terjawab.
Jalan yang seharusnya menjadi penghubung kehidupan justru menjadi simbol keterisolasian—sempit, berkelok, dan sulit dilalui.
Di balik kondisi itu, harapan warga tak pernah benar-benar padam.
Mereka menanti hadirnya akses jalan Nunuk–Cihaur, sebuah jalur yang diyakini mampu membuka keterhubungan, mempercepat mobilitas, dan menghidupkan kembali denyut ekonomi desa.
Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Majalengka, H. Iing Misbahuddin, SM., S.H., mengaku telah turun langsung menemui warga untuk mendengar aspirasi yang selama ini tertahan.
Ia menyebut, keinginan masyarakat bukanlah sesuatu yang berlebihan, melainkan kebutuhan mendasar yang telah lama dinantikan.
“Saya kira pemerintah juga sudah mengetahui kondisinya. Besar harapan kami pemerintah untuk segera memperhatikan dan mewujudkan keinginan dari warga Desa Nunuk yang ingin memiliki jalan akses Nunuk - Cihaur,” ujarnya, Jum'at, (1/5/2026).
Menurutnya, keluhan warga tidak boleh berhenti sebagai catatan semata, melainkan harus ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan nyata yang berpihak pada masyarakat.
“Saya meminta pemerintah untuk menindaklanjuti keluh kesah dari warga tersebut,” tegas politisi dari Partai Keadilan Sejahtera itu.
Dari tingkat desa, suara serupa juga disampaikan. Kepala Desa Nunuk melalui Kepala Urusan Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang), Wakub, mengungkapkan bahwa jalan tersebut terakhir kali mendapat perbaikan pada tahun 2015.
Sejak saat itu, berbagai upaya pengajuan telah dilakukan, namun belum membuahkan hasil signifikan.
“Mungkin sudah beberapa tumpuk proposal yang kami buat dan ajukan, mungkin sudah habis beberapa rim lah,” ujarnya, menggambarkan panjangnya perjuangan administratif yang telah ditempuh.
Ia menjelaskan, jalan Nunuk–Cihaur merupakan akses utama penghubung antar kecamatan yang memiliki peran vital dalam aktivitas masyarakat.
Namun ironisnya, kondisi jalan yang rusak justru membuat sebagian wilayah semakin terisolasi.
Di sepanjang jalur tersebut, terdapat dua blok permukiman, Dusun Lengkong dan Dusun Kadut yang kini menghadapi keterbatasan akses yang serius.
Warga di dua dusun itu bahkan harus memutar melewati beberapa kecamatan hanya untuk mencapai pusat Desa Nunuk atau menghadiri kegiatan desa.
Padahal secara geografis, jarak yang harus ditempuh sebenarnya tidaklah jauh.
“Padahal kalau akses jalan Nunuk - Cihaur bagus hanya berjarak sekitar 3 sampai 4 kilometer saja,” jelas Wakub.
Kondisi ini menjadi potret nyata bagaimana infrastruktur bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi juga soal keadilan ruang dan akses terhadap kehidupan yang layak.
Kini, di tengah jalan yang belum berpihak, warga Nunuk hanya menggantungkan harapan pada satu hal sederhana: keinginannya tidak berhenti sebagai wacana, melainkan menjelma menjadi jalan nyata yang menghubungkan mereka dengan masa depan.
Di Nunuk, jalan bukan sekadar lintasan—ia adalah harapan yang masih diperjuangkan.(*)

