![]() |
| Foto Ilustrasi |
Ada bau busuk yang merebak dari balik dinding-dinding kokoh Kantor Bupati Kepulauan Tanimbar di Saumlaki. Bau itu bukan sampah pasar yang membusuk di bawah terik matahari, melainkan bangkai idealisme yang dibunuh secara perlahan oleh orang-orang yang dulu kita sebut sebagai saudara, kawan, dan pahlawan.
Mereka para mantan aktivis yang dulu berteriak hingga serak di jalanan, para akademisi yang dulu meracik teori-teori perlawanan di ruang kuliah, serta oknum wartawan yang dulu mengklaim dirinya sebagai pena bagi yang tak bersuara kini telah menjelma menjadi 'bupati-bupati kecil'.
Mereka adalah sekelompok manusia yang telah menukar nurani dengan remah-remah kekuasaan. Dulu, nama rakyat Tanimbar selalu dijual dalam setiap orasi politik mereka.
Air mata ibu-ibu yang kelaparan di pelosok desa, penderitaan nelayan yang tak mampu membeli solar, serta nasib anak-anak yang putus sekolah dijadikan komoditas murah untuk menaikkan posisi tawar mereka di hadapan penguasa.
Rakyat Tanimbar adalah tangga kayu yang mereka pijak rapat-rapat demi memanjat dinding kekuasaan. Namun begitu mereka tiba di puncak, tangga itu tidak hanya ditinggalkan, melainkan ditendang hingga hancur berkeping-keping.
Hari ini, coba perhatikan wajah-wajah mereka. Wajah-wajah yang dulu dipenuhi sorot mata dingin perlawanan, kini tampak licin, berminyak, dan membengkak oleh kepuasan materi.
Tatapan mereka tak lagi mengarah pada penderitaan rakyat di garis bawah, melainkan tertuju pada ketebalan dompet dan rekening pribadi. Idealisme mereka yang dulu digadang-gadang setajam sembilu, kini tumpul tak berbekas, tergerus oleh empuknya kursi pejabat dan harumnya aroma uang negara yang digarong secara sistematis.
Yang paling mengerikan dari fenomena ini bukanlah sekadar perubahan gaya hidup mereka, melainkan metamorfosis mentalitas mereka. Dulu mereka menindas tirani; kini mereka menjelma menjadi tiran itu sendiri.
Ketika rakyat Tanimbar yang kian tercekik mulai menyuarakan kritik, ketika akademisi yang masih berakal sehat mencoba mengingatkan, dan ketika wartawan jujur serta aktivis murni mencoba mengontrol kebijakan, respon para 'bupati kecil' ini sangat memuakkan. Mereka tak lagi menggunakan argumentasi intelektual atau data yang rasional. Mereka menggunakan metode preman.
Ancaman, intimidasi, pembungkaman, hingga teror terselubung kini menjadi bahasa standar yang mereka gunakan untuk membendung kritik. "Jangan macam-macam kalau masih mau makan," atau "Ingat keluarga di rumah," menjadi bisikan-bisikan beracun yang disebarkan melalui jejaring kekuasaan mereka.
Mereka yang dulu berjuang atas nama kebebasan berpendapat, kini menjadi garda terdepan yang memasang pembungkam di mulut rakyatnya sendiri. Mereka berlaku seperti preman berjas dan berdasi, yang memperlakukan Kabupaten Kepulauan Tanimbar seolah milik nenek moyang mereka pribadi.
Sungguh sebuah teater absurditas yang menyeramkan. Kelompok cari muka ini berkeliaran di lorong-lorong kekuasaan dengan sikap mengabdi yang menggelikan. Di hadapan atasannya, mereka menunduk membungkuk seperti budak yang takut dicambuk, siap menjilat sepatu penguasa asal mendapatkan posisi yang layak dan anggaran yang cukup untuk membiayai gaya hidup hedonis mereka.
Namun begitu mereka menghadap ke arah rakyat, postur tubuh mereka mendadak tegap, dagu mereka terangkat angkuh, dan tangan mereka siap memukul siapa saja yang berani mempertanyakan dari mana asal-usul kekayaan mendadak yang mereka nikmati.
Rakyat Tanimbar kini menyaksikan sebuah tragedi kebudayaan dan kemanusiaan. Bumi Duan Lolat, yang memegang teguh nilai-nilai persaudaraan, keadilan, dan kesetaraan, sedang diinjak-injak oleh anak-anak kandungnya sendiri yang telah menjadi pengkhianat.
Mereka menggunakan kekuasaan bukan untuk mengentaskan kemiskinan yang mencekik, melainkan untuk mempertebal benteng pertahanan dari amarah publik. Proyek-proyek pembangunan dialokasikan bukan berdasarkan kebutuhan masyarakat miskin, melainkan berdasarkan seberapa besar persentase cashback yang masuk ke kantong pribadi para 'bupati kecil' dan kelompoknya.
Mari kita tatap kenyataan ini tanpa kedipan mata: kekuasaan telah membuat mereka buta dan tuli. Mereka tidak lagi mampu melihat mata anak-anak Tanimbar yang suram karena gizi buruk.
Mereka tidak lagi mampu mendengar tangisan para ibu yang kebingungan mencari biaya berobat. Di kepala mereka, yang ada hanyalah kalkulasi finansial: bagaimana cara mempertahankan jabatan, bagaimana cara menutup mulut penentang, dan bagaimana cara mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya sebelum masa jabatan berakhir.
Penindasan yang dilakukan oleh musuh luar masih bisa kita prediksi dan lawan dengan dada tegap. Namun, penindasan yang dilakukan oleh mantan kawan sendiri oleh mereka yang tahu persis di mana titik lemah kita, oleh mereka yang dulu makan bersama di piring yang sama adalah penindasan yang paling menusuk hingga ke tulang sumsum. Ini adalah pengkhianatan terbesar dalam sejarah sosial Kepulauan Tanimbar.
Namun, para 'bupati kecil' dan para penjilat kekuasaan itu lupa pada satu hal dasar dalam hukum sejarah: tidak ada penindasan yang abadi, dan tidak ada kesabaran rakyat yang tak memiliki batas. Benteng kekuasaan yang dibangun di atas air mata dan penderitaan orang banyak pada akhirnya hanyalah istana pasir.
Ketika ombak kemarahan publik memuncak, semua ancaman premanisme, semua uang hasil korupsi, dan semua perlindungan dari penguasa tidak akan mampu menyelamatkan mereka dari pengadilan moral dan sejarah.
Kepada para 'bupati kecil' yang hari ini sedang mabuk oleh takhta dan harta: nikmatilah setiap rupiah yang kalian curi dari perut rakyat Tanimbar. Puaskanlah syahwat kekuasaan kalian selagi bisa. Namun ingatlah, setiap ancaman yang kalian lontarkan, setiap kritik yang kalian bungkam, dan setiap tetes air mata rakyat yang kalian abaikan sedang dicatat dengan tinta darah oleh sejarah.
Pada saatnya nanti, ketika kekuasaan itu tanggal dari tubuh kalian, kalian hanya akan diingat sebagai serangga perusak yang pernah menggerogoti tanah Tanimbar manusia-manusia kerdil yang menjual jiwanya demi sepinggan nasi dan setumpuk uang kertas yang tak dibawa mati.
Redaksi-Jurnalinvestigasi


