INDRAMAYU, Media Jurnal Investigasi 26 Agustus 2026 – Penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang dikawal Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Jawa Barat (BRMP Jawa Barat) pada demfarm seluas 100 hektar di Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu mencatat produktivitas tertinggi 12,35 ton per hektarberdasarkan hasil ubinan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Indramayu. Capaian tersebut melampaui target produktivitas PM-AAS sebesar 10 ton per hektar.
Panen PM-AAS BRMP Jawa Barat di Indramayu dilaksanakan pada Rabu (26/8/2026) di areal Kelompok Tani Bina Tani III, Blok Suketbaju, Desa Plosokerep. Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi, Dr. Amin Nur, S.P., M.Si., yang mewakili Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian, bersama Bupati Indramayu Lucky Hakim melakukan panen menggunakan combine harvester. Panen berlangsung pada areal seluas 5 hektar yang menjadi bagian dari demfarm PM-AAS seluas 100 hektar.
Panen tersebut menjadi penanda perjalanan satu musim pertanaman yang dimulai sejak tanam perdana pada 13 Mei 2026. Selama lebih dari tiga bulan, BRMP Jawa Barat mengawal penerapan PM-AAS bersama petani, penyuluh, POPT, pemerintah daerah, serta pihak terkait sejak persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman hingga panen.
Pada 19 Agustus 2026, Tim BPS Kabupaten Indramayu yang dipimpin Januarto Wibowo mengukur hasil panen (ubinan) pada empat titik sampel di Desa Plosokerep. Rata-rata produktivitas mencapai 10,80 ton/hektar, yang melampaui target PM-AAS. Capaian tertinggi diraih Kelompok Tani (Poktan) Tani Makmur dengan 12,35 ton/hektar (varietas Ciherang), disusul Bina Tani III (11,74 ton/ha) dan Bina Tani IV (10,65 ton/ha).
Meski Poktan Bina Tani II mencatat hasil terendah yakni 8,44 ton/ha, angka ini melonjak dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya (4 ton/ha). Hal ini membuktikan keberhasilan PM-AAS dalam mendongkrak produktivitas secara signifikan, bahkan pada lahan yang sebelumnya berproduksi rendah.
Bagi BRMP Jawa Barat, kenaikan produksi tersebut perlu dibaca sampai pada dampaknya terhadap usaha tani petani. Kepala BRMP Jawa Barat sekaligus Direktur Wilayah Jawa Barat, Dr. Detia Tri Yunandar, S.P., M.Si., memaparkan analisis usaha tani dengan membandingkan biaya budidaya eksisting dan penerapan PM-AAS.
Penerapan sistem PM-AAS membutuhkan total biaya Rp20 juta/hektar, meningkat Rp5 juta dari pola konvensional (Rp15 juta/hektar) untuk memenuhi kebutuhan teknologi budidaya. Namun, menurut analisis Detia, investasi tambahan tersebut sangat sepadan karena mampu memberikan ekstra pendapatan hingga Rp24 juta/hektar. Potensi keuntungan petani ini bahkan bisa jauh melesat, mengingat perhitungan tersebut menggunakan standar harga pembelian pemerintah, yakni Rp6.500/kg GKP (Gabah Kering Panen) +.
Data tersebut menjadi bagian penting dari evaluasi BRMP Jawa Barat. Produktivitas 12,35 ton per hektar memang menjadi capaian yang mudah terlihat pada saat panen, tetapi ukuran keberhasilan PM-AAS tidak berhenti pada tonase. BRMP Jawa Barat juga melihat berapa tambahan biaya yang harus dikeluarkan petani dan seberapa besar tambahan pendapatan yang diperoleh setelah teknologi diterapkan.
Target produktivitas minimal 10 ton per hektar sebelumnya disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ketika memimpin Rapat Koordinasi Perluasan Pelaksanaan PM-AAS pada 26 Juni 2026. PM-AAS dikembangkan setelah melalui penelitian dan pengujian lapangan serta mengintegrasikan pengaturan populasi tanaman, sistem budidaya dan pertanian presisi.
“Targetnya minimal 10 ton per hektar, bahkan hasil uji lapangan sudah mencapai 12,4 ton per hektar,” ujar Mentan Amran saat itu.
Amran menekankan bahwa peningkatan hasil harus berjalan bersama efisiensi penggunaan sarana produksi. Pengaturan jarak dan populasi tanaman serta penerapan pertanian presisi diarahkan agar penggunaan pupuk, air, dan input produksi dapat dilakukan secara lebih terukur.
“Kalau ini diterapkan dengan benar, biaya pupuk dan air bisa jauh lebih efisien. Input turun, tetapi hasil panen meningkat. Di situlah keuntungan petani akan naik,” kata Amran.
Sejalan dengan arahan tersebut, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, Fadjry Djufry, menyampaikan bahwa PM-AAS mengintegrasikan berbagai komponen teknologi dalam satu sistem produksi, mulai dari penggunaan varietas unggul spesifik lokasi, mekanisasi pertanian, pengelolaan hara dan air hingga pendampingan budidaya kepada petani.
“Pilot project yang kami lakukan di berbagai daerah menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan. Karena itu tahun ini PM-AAS mulai diperluas di seluruh Indonesia dengan target penerapan mencapai satu juta hektar. Harapannya, produktivitas meningkat dan pendapatan petani ikut terdongkrak,” ujar Fadjry.
Modernisasi pertanian di Indramayu diterapkan secara terintegrasi dari awal tanam hingga panen. Mekanisasi disesuaikan dengan setiap fase budidaya, meliputi pengolahan lahan menggunakan traktor, perawatan dengan drone sprayer, hingga panen memakai combine harvester.
Selama satu musim, BRMP Jawa Barat mengawal ketat seluruh proses ini, mulai dari manajemen hara dan air hingga mitigasi kendala lapangan. Pendampingan ini dilakukan secara kolaboratif lintas sektor yang melibatkan petani, penyuluh, POPT, dan Pemda setempat untuk memastikan penerapan teknologi benar-benar adaptif dengan kondisi lokal Desa Plosokerep.
Bupati Indramayu Lucky Hakim mengaku terkesan dengan hasil ubinan yang diperoleh petani. Dalam sambutannya, Lucky melihat capaian di atas 10 ton per hektar sebagai peluang yang dapat memberikan hasil lebih besar bagi petani Indramayu.
“Ternyata setelah ubinan, kalau tidak salah, di sekitar kita bisa mendapatkan sekitar 10 ton lebih per hektar. Sepuluh ton lebih. Padahal tadinya bayangannya sekitar delapan, ternyata dapatnya 10. Wah ini luar biasa,” ujar Lucky.
Menurut Lucky, peningkatan produksi tidak cukup hanya dibaca sebagai bertambahnya jumlah gabah yang dihasilkan. Sebagai salah satu lumbung padi nasional, peningkatan produktivitas di Indramayu perlu berjalan bersama peningkatan nilai yang diterima petani.
“Karena kalau ini berhasil, ini menjadi harapan yang lebih tinggi bagi kita semua, bahwa petani itu bisa mendapatkan nilai lebih, mendapatkan uang lebih banyak,” katanya.
Lucky juga memandang modernisasi sebagai kebutuhan agar pertanian tidak berhenti pada cara kerja yang sama ketika teknologi terus berkembang.
“Kalau enggak ada modernisasi maka ada stagnasi,” tegas Lucky.
Panen PM-AAS BRMP Jawa Barat di Indramayu turut dihadiri Plt. Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian sekaligus Penanggung Jawab Pencapaian Swasembada Pangan Provinsi Jawa Barat, Dr. Rahmat, S.Si., M.Si.; Komandan Kodim 0616/Indramayu; perwakilan Polres Indramayu; Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Indramayu, Drs. H. Sugeng Heryanto, M.Si.; Kepala BPS Kabupaten Indramayu, Januarto Wibowo, S.ST., M.M.; Kepala Bapperida Kabupaten Indramayu; serta Sekretaris Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat/Plt. Kepala Bidang Tanaman Pangan.
Hadir pula perwakilan Regional CEO 2 PT Pupuk Indonesia; perwakilan Plt. Kepala BPLIP Kelas I Bandung; Ketua Kelompok Substansi Pengelolaan Penyuluhan Pertanian Jawa Barat; Ketua Tim Kerja Penyuluhan Pertanian Kabupaten Indramayu; Ketua KTNA Kabupaten Indramayu; Camat Terisi; Kuwu Plosokerep; Direktur PT CIN Korea Nusantara Indonesia; Koordinator Penyuluh se-Kabupaten Indramayu; Brigade Pangan Cempaka Mulya; serta petani dan penyuluh.
Hasil ubinan BPS dan analisis usaha tani menjadi landasan utama evaluasi program PM-AAS BRMP Jawa Barat di Indramayu. Kedua indikator ini secara riil membuktikan bahwa lonjakan produktivitas di lapangan sukses menghasilkan keuntungan finansial yang jauh melampaui biaya investasi teknologi.
Selama satu musim tanam di demfarm Desa Plosokerep (13 Mei–26 Agustus 2026), telah terkumpul data komprehensif yang mencakup teknis agronomi, mekanisasi, pengelolaan sumber daya, hingga nilai keekonomian. Seluruh data ini akan menjadi acuan strategis BBRMP Jawa Barat dalam mematangkan komponen teknologi sebelum PM-AAS direplikasi dalam skala yang lebih luas.
Ganjar


