Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates
{{ date }}
{{ time }}
DIGITAL CLOCK with Vue.js

Seruan Damai dari Kwamki Narama: Tokoh Perang Newegalen Ajak Kelompok Dang Akhiri Pertikaian

Wempie Yance
04 September 2026
Last Updated 2026-09-04T11:08:09Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

 


Media Jurnal Investigasi | Mimika, Papua Tengah – Pertikaian berkepanjangan yang terjadi di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, mendapat perhatian serius dari sejumlah tokoh masyarakat, tokoh perang dan tokoh agama. Mereka menyerukan agar konflik yang telah berlangsung sejak Oktober 2025 tersebut segera diakhiri melalui jalan perdamaian.


Tokoh Perang dari kelompok Newegalen, Erinus Newegalen, yang juga dikenal sebagai Waimum (Kepala Perang), secara terbuka mengajak kelompok Dang untuk bersama-sama mengakhiri pertikaian dan membangun perdamaian demi keselamatan seluruh masyarakat.


Erinus mengatakan, pihaknya telah menerima dua pelajar yang sebelumnya menjadi korban dalam konflik tersebut sebagai bagian dari pihak mereka. Ia menyampaikan bahwa proses pemakaman kedua korban dilakukan berdasarkan permintaan keluarga, yakni dimakamkan sesuai keinginan keluarga dan tidak dikremasi.


“Kami sudah terima. Kami ikut kemauan keluarga. Tujuan mereka dikubur karena keluarga mau supaya perang ini aman dan selesai,” ujar Erinus.


Menurutnya, keputusan tersebut menjadi bagian dari upaya untuk menghormati keluarga korban sekaligus membuka ruang bagi penyelesaian konflik secara damai.


Erinus menegaskan bahwa kelompok Newegalen menginginkan perang adat yang telah berlangsung cukup lama tersebut segera dihentikan. Ia berharap tidak ada lagi korban jiwa dan masyarakat dapat kembali menjalankan kehidupan sehari-hari dengan aman.


“Kami ingin perang ini selesai. Mari kita sama-sama berdamai. Jangan ada lagi korban. Masyarakat harus bisa hidup tenang, anak-anak bisa kembali sekolah, gereja dapat menjalankan pelayanan, petani dapat bekerja, dan seluruh aktivitas masyarakat bisa berjalan normal,” pesannya.


Ia juga berharap proses perdamaian mendapat dukungan dari seluruh pihak, terutama TNI-Polri, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Pemerintah Kabupaten Mimika, serta Pemerintah Kabupaten Puncak, sehingga upaya menciptakan situasi yang aman dan kondusif dapat berjalan bersama.


Sementara itu, Yan Tinal, selaku Tokoh Masyarakat Kwamki Narama, turut menyerukan agar konflik tersebut segera diakhiri melalui perdamaian.


Yan Tinal menegaskan bahwa seluruh pihak yang selama ini berselisih harus mengutamakan persatuan dan keselamatan masyarakat. Menurutnya, tidak boleh lagi ada perpecahan maupun perbedaan arah yang dapat memperpanjang konflik.


“Perang ini harus segera diakhiri. Kita semua harus bersatu dan mencari jalan damai. Jangan lagi ada perpecahan. Mari kita dukung proses perdamaian agar masyarakat Kwamki Narama dapat hidup aman dan tenang,” ungkap Yan Tinal.


Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memberikan dukungan kepada aparat keamanan dalam mengawal proses penyelesaian konflik hingga situasi benar-benar aman dan kondusif.


Menurut Yan, perdamaian sangat penting agar seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak sekolah, jemaat gereja, petani, pegawai hingga pemerintahan, dapat kembali menjalankan aktivitas tanpa rasa takut.


“Anak sekolah harus bisa pergi belajar dengan aman. Gereja harus bisa melayani jemaat, petani harus bisa bekerja di kebun, pegawai harus bisa bekerja dan pemerintahan harus bisa berjalan. Semua itu hanya bisa terwujud kalau kita berdamai,” katanya.


Seruan perdamaian juga disampaikan Pendeta Anton Uamang. Ia mengajak seluruh tokoh agama di Mimika untuk tidak tinggal diam dan turut mengambil bagian dalam proses penyelesaian pertikaian, khususnya yang terjadi di Distrik Kwamki Narama.


Pendeta Anton menilai gereja memiliki tanggung jawab moral untuk berada di tengah-tengah masyarakat yang sedang mengalami konflik dan mendorong kedua kelompok yang bertikai untuk memilih jalan damai.


“Semua tokoh gereja tolong terlibat dalam upaya perdamaian pertikaian ini. Gereja tidak boleh menghindar dari jemaat, karena jemaat kita yang sedang bertikai di lapangan. Kita harus berada di tengah-tengah dan mengambil komitmen untuk mendamaikan,” tegasnya.


Ia berharap gereja dapat menjadi bagian dari jalan keluar dan membawa pesan damai kepada seluruh masyarakat.


“Kita harus bersama-sama menciptakan jalan damai, supaya gereja dapat berjalan dengan aman, pelayanan kepada jemaat berjalan, dan masyarakat juga dapat hidup dengan tenang,” tambahnya.


Para tokoh tersebut berharap seruan perdamaian ini dapat menjadi momentum bagi kedua kelompok untuk menghentikan pertikaian dan membuka lembaran baru.


Perdamaian bukan berarti melupakan persoalan yang telah terjadi, tetapi menjadi jalan untuk menghentikan jatuhnya korban, menyelamatkan generasi muda, memulihkan kehidupan masyarakat, dan membangun kembali persaudaraan di Kwamki Narama.


Mereka mengajak seluruh pihak untuk menahan diri, tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, serta mengedepankan musyawarah dan penyelesaian secara damai.


“Mari hentikan perang. Mari jaga anak-anak kita. Mari selamatkan masyarakat kita. Kwamki Narama membutuhkan kedamaian, bukan pertikaian. Kita boleh berbeda kelompok, tetapi kita tetap satu sebagai masyarakat dan saudara,” menjadi pesan perdamaian yang disampaikan para tokoh.


Dengan adanya seruan tersebut, diharapkan seluruh pihak yang terlibat dapat membuka ruang dialog dan bersama-sama mengakhiri pertikaian, sehingga keamanan, pelayanan pemerintahan, pendidikan, kehidupan keagamaan serta aktivitas ekonomi masyarakat di Kwamki Narama dapat kembali berjalan normal.

(WY)

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl