Majalengka, Media Jurnal Investigasi--- Tiga atap bangunan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Andir 2, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, ambruk pada Kamis, 8 Januari.
Ironisnya, bangunan sekolah tersebut diketahui baru direnovasi pada tahun 2021 lalu.
Ambruknya atap bangunan menyebabkan ruang kelas I, II dan III yang terjadi sekitar pukul 10.00 WIB ini mengalami kerusakan cukup parah.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut karena kejadian berlangsung saat libur panjang dan hanya beraktifitas saat pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menanggapi kejadian tersebut, Komisi III DPRD Kabupaten Majalengka menyatakan keprihatinan mendalam dan berencana segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi kejadian.
Ketua Komisi III DPRD Majalengka, H Iing Misbahuddin, SM., mengatakan bahwa ambruknya bangunan sekolah yang relatif baru direnovasi menimbulkan tanda tanya besar terkait kualitas pekerjaan proyek.
"Saya sangat prihatin dan kecewa, kembali mendapatkan laporan sebuah bangunan SD yang baru saja selesai dibangun pada tahun 2021, kemarin Kamis pagi ambruk," tulisnya, Jum'at, (9/1/26).
Menurutnya, peristiwa ambruknya atap ruang kelas di SDN tersebut bukan hanya kerusakan bangunan semata. Namun ancaman nyata bagi nyawa para siswa.
"Ini bukan sekadar kerusakan bangunan, tapi ancaman nyata bagi nyawa anak-anak kita," sambungnya.
Politisi PKS ini menegaskan bahwa kejadian ini jangan dianggap sebagai hal yang biasa.
"Ini tidak boleh dianggap biasa, bangunan yang baru berumur 4 tahun seharusnya masih dalam kondisi prima," ujarnya.
Menurutnya, jika bangunan yang baru direnovasi sudah ambruk dalam waktu yang relatif singkat, hal itu mengindikasikan adanya persoalan serius.
Kondisi ini tentu tidak bisa dianggap sebagai faktor kebetulan semata, melainkan harus ditelusuri secara menyeluruh agar penyebab pastinya dapat diungkap dan tidak kembali terulang pada proyek pembangunan lainnya.
"Jika ambruk secepat ini, terindikasi kuat ada masalah dalam perencanaan, kualitas material, atau proses pengerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi," kata Iing.
Uang rakyat yang bersumber dari pajak, kata Iing, seharusnya diwujudkan dalam bangunan yang kokoh, berkualitas, dan aman digunakan.
"Bukan justru berakhir menjadi reruntuhan yang membahayakan keselamatan masyarakat, khususnya peserta didik dan tenaga pendidik," tutupnya.(*)

