Majalengka || MEDIA JURNAL INVESTIGASI— Malam pertama bulan suci Ramadhan turun dengan hening yang khidmat. Langit seakan menunduk, angin berembus pelan membawa doa-doa yang melangit.
Di suasana yang sarat makna itu, Ketua Komisi III DPRD Majalengka, H. Iing Misbahuddin, SM, menyampaikan pesan reflektif yang menggugah kesadaran akan hakikat pembangunan yang sesungguhnya.
Sebagai bagian dari amanah yang ia emban, H. Iing menyadari bahwa pembangunan infrastruktur—jalan yang mulus, jembatan yang kokoh, gedung yang megah, hingga saluran irigasi yang prima—adalah fondasi penting bagi kemajuan daerah. Namun, menurutnya, semua itu sejatinya hanyalah sarana.
“Sebagai bagian dari amanah yang saya emban, saya menyadari bahwa pembangunan infrastruktur; jalan yang mulus, jembatan kokoh, gedung yang megah, dan saluran irigasi yang prima, hanyalah sarana,” ujar Ketua Komisi III DPRD Majalengka tersebut, Kamis, (19/2/2026).
Ramadhan, lanjutnya, hadir bukan sekadar sebagai penanda waktu ibadah, melainkan momentum perenungan mendalam.
Bulan suci ini mengingatkan bahwa ada pembangunan yang jauh lebih krusial dari sekadar fisik dan materi—yakni pembangunan karakter dan spiritual.
“Ramadhan hadir untuk mengingatkan kita semua pada pembangunan yang jauh lebih krusial; yakni pembangunan karakter dan spiritual,” tuturnya dengan penuh harap.
Bagi politisi dari Partai Keadilan Sejahtera itu, keberhasilan sebuah daerah tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur, tetapi juga dari kokohnya akhlak masyarakatnya.
Jalan boleh terbentang luas, namun tanpa integritas dan keimanan, arah kehidupan bisa kehilangan tujuan. Gedung boleh menjulang tinggi, tetapi tanpa nilai-nilai kejujuran dan kepedulian, ia tak lebih dari bangunan tanpa ruh.
Ramadhan menjadi madrasah ruhani, tempat setiap insan ditempa untuk menahan diri, memperhalus budi, serta menumbuhkan empati terhadap sesama.
Di bulan inilah kesabaran diuji, keikhlasan diasah, dan ketakwaan dipupuk dalam sunyi doa serta lantunan ayat suci.
Mengakhiri pesannya, H. Iing Misbahuddin mengucapkan selamat datang kepada bulan penuh berkah ini dengan hati yang tulus.
“Marhaban Yaa Ramadhan. Mohon maaf lahir dan batin,” ucapnya.
Sebuah salam yang bukan sekadar tradisi, melainkan ajakan untuk bersama-sama membersihkan hati, memperbaiki diri, dan menata ulang niat, agar Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi titik balik menuju pribadi yang lebih bertakwa dan masyarakat yang lebih beradab.

