Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates
{{ date }}
{{ time }}
DIGITAL CLOCK with Vue.js

Sasi Telur Ikan Terbang di Seira Jangan Jadi Keputusan Tanpa Kajian

MALUKU - JURNALINVESTIGASI
09 September 2026
Last Updated 2026-09-09T04:44:21Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
Foto Ilustrasi


Saumlaki, Jurnalinvestigasi.com - Rencana sasi telur ikan terbang di perairan Seira Blawat, Kecamatan Wermaktian, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, memasuki babak yang patut mendapat perhatian serius.


Dalam rapat di tingkat desa, dibahas sejumlah agenda yang berkaitan dengan rangkaian kegiatan adat pada 29 September 2026, yakni sasi telur ikan terbang, proses pemberian nama adat kepada kepala daerah yang dijembatani Camat, serta agenda yang direncanakan disaksikan Bupati dan Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar.


Rangkaian tersebut memiliki nilai adat dan sosial yang penting.


Namun, ketika sasi menyentuh langsung sumber penghidupan nelayan dan keberlanjutan ikan terbang, satu pertanyaan tidak boleh dihindari:


Apakah keputusan mengenai telur ikan terbang Seira sudah didahului kajian yang benar-benar menjawab kondisi laut Seira?


Pertanyaan itu bukan bentuk penolakan terhadap sasi.


Justru sebaliknya.


Kalau sasi dimaksudkan untuk menyelamatkan sumber daya laut, maka keputusan tersebut harus mempunyai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.


Jangan sampai niat menjaga ikan terbang justru dilakukan tanpa terlebih dahulu memahami bagaimana ikan itu hidup dan berkembang biak.


Jangan Sampai Adat Berjalan, Data Tertinggal


Sasi adalah bagian penting dari kehidupan masyarakat Maluku.


Ia bukan sesuatu yang harus dilawan.


Ia adalah kekuatan sosial yang selama ini menjadi bagian dari cara masyarakat menjaga sumber daya alam.


Tetapi sasi juga tidak boleh ditempatkan sebagai alasan untuk menutup ruang penelitian dan pertanyaan kritis.


Sebab laut mempunyai hukum alamnya sendiri.


Ikan tidak mengenal batas keputusan rapat.


Telur tidak mengikuti papan pengumuman.


Arus tidak tunduk pada keputusan manusia.


Musim pemijahan tidak menunggu seremoni.


Karena itu, ketika manusia membuat aturan untuk laut, manusia harus terlebih dahulu memahami cara laut bekerja.


Di sinilah ilmu pengetahuan dibutuhkan.


Telur Ikan Terbang Bukan Sekadar Komoditas


Telur ikan terbang memang mempunyai nilai ekonomi bagi masyarakat.


Tetapi telur tersebut juga merupakan bagian dari siklus regenerasi ikan terbang.


Ikan terbang diketahui mempunyai perilaku meletakkan telur pada benda-benda terapung. Perilaku ini pula yang dimanfaatkan dalam teknologi bale-bale untuk mengumpulkan telur.


Artinya, ketika pemerintah dan masyarakat berbicara tentang sasi telur ikan terbang, yang sebenarnya sedang dibicarakan bukan hanya soal hasil tangkapan.


Yang sedang dibicarakan adalah satu bagian dari siklus kehidupan ikan.


Maka pertanyaannya harus lebih dalam.


Jika bale-bale dikurangi, apa dampaknya?


Jika seluruhnya dibongkar, bagaimana kondisi substrat pemijahan?


Jika telur dilarang dipanen, apakah tingkat kelangsungan hidup telur meningkat?


Jika wilayah ditutup, berapa lama penutupan yang dibutuhkan?


Dan jika sasi dibuka kembali, berapa jumlah tangkapan yang masih aman?


Tanpa penelitian, semua jawaban itu hanya perkiraan.


Jangan Membuat Kebijakan dengan Mata Tertutup


Inilah yang harus menjadi perhatian.


Jangan mengambil keputusan ekologis dengan data yang belum lengkap.


Sebelum sasi diberlakukan, seharusnya ada data dasar mengenai populasi ikan terbang, musim pemijahan, lokasi pemijahan, jumlah telur, pola penempelan telur, jumlah bale-bale, tingkat pemanfaatan telur dan kondisi habitat.


Kalau data tersebut belum tersedia, maka pemerintah dan masyarakat harus berani mengatakannya:


Data belum cukup. Kita teliti dahulu.


Itu bukan kelemahan.


Justru itu bentuk tanggung jawab.


Yang berbahaya adalah ketika sebuah keputusan terlihat sangat tegas, tetapi fondasi datanya rapuh.


Jangan Sampai Nelayan Hanya Mendapat Larangan


Ada pertanyaan lain yang jauh lebih manusiawi.


Kalau telur ikan terbang disasi, bagaimana nasib nelayan?


Berapa keluarga yang menggantungkan pendapatan dari kegiatan tersebut?


Berapa modal yang sudah dikeluarkan?


Berapa pendapatan yang hilang apabila akses ditutup?


Apa pekerjaan alternatif yang disiapkan?


Apakah pemerintah mempunyai program pengganti?


Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk melemahkan konservasi.


Justru karena konservasi harus memiliki wajah manusia.


Nelayan bukan angka dalam laporan. Mereka adalah manusia yang setiap hari membawa hasil laut pulang untuk keluarganya.


Karena itu, tidak adil jika masyarakat hanya diberi kalimat, “demi kelestarian laut,” sementara tidak ada jawaban mengenai bagaimana mereka bertahan hidup.


Sasi Jangan Menjadi Larangan yang Hanya Kuat di Awal


Banyak aturan terlihat kuat ketika pertama kali dibuat.


Tetapi persoalan sebenarnya muncul setelah aturan berjalan.


Ketika nelayan mulai kehilangan pendapatan.


Ketika ada orang yang melanggar.


Ketika muncul perbedaan kepentingan.


Ketika ada pihak yang merasa tidak mendapatkan manfaat.


Ketika pengawasan mulai melemah.


Karena itu, sasi Seira tidak boleh hanya memikirkan hari pembukaan atau penetapannya.


Harus dipikirkan juga hari setelah sasi berlaku.


Siapa yang mengawasi?


Siapa yang menindak?


Siapa yang boleh memanfaatkan laut?


Bagaimana sengketa diselesaikan?


Bagaimana nelayan yang terdampak dibantu?


Dan kapan aturan dievaluasi?


Kalau semua pertanyaan itu belum terjawab, maka pekerjaan sebenarnya belum selesai.


29 September Harus Menjadi Momentum, Bukan Sekadar Seremoni


Tanggal 29 September 2026 memiliki arti penting karena pada tanggal tersebut direncanakan rangkaian agenda sasi dan adat, termasuk agenda yang akan disaksikan Bupati dan Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar.


Karena itu, momen tersebut seharusnya tidak berhenti pada seremoni.


Kehadiran pimpinan daerah harus menjadi kesempatan untuk memastikan bahwa aspirasi adat, kepentingan nelayan dan kepentingan ekologis benar-benar dipertemukan.


Kalau kajian belum lengkap, katakan belum lengkap.


Kalau perlu pemetaan, lakukan pemetaan.


Kalau nelayan membutuhkan masa transisi, siapkan.


Kalau ada wilayah yang harus dilindungi, tetapkan berdasarkan data.


Jangan sampai tanggalnya sudah ditentukan, tetapi jawabannya belum disiapkan.


Jangan Menggunakan Ketakutan sebagai Dasar Kebijakan


Kekhawatiran bahwa ikan terbang akan meninggalkan Seira dan berpindah ke Selaru juga harus disikapi secara hati-hati.


Sampai saat ini, belum tersedia penelitian khusus yang dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa penerapan sasi atau perubahan penggunaan bale-bale di Seira akan menyebabkan ikan terbang berpindah secara permanen ke Selaru.


Karena itu, jangan menggunakan isu tersebut untuk menakut-nakuti masyarakat.


Tetapi jangan pula mengabaikannya.


Teliti. Ukur. Buktikan.


Kalau benar ada perubahan distribusi ikan, data akan menunjukkannya.


Kalau tidak ada, masyarakat juga memperoleh kepastian.


Begitulah kebijakan yang sehat dibuat.


Proses Pemberian Nama Adat, Camat Berperan Menjembatani


Bagian mengenai pemberian nama adat juga perlu ditempatkan secara tepat agar tidak menimbulkan salah tafsir.


Dalam hasil rapat yang disampaikan, tidak terdapat poin bahwa Camat akan menerima pengangkatan atau pemberian nama adat oleh orang tua-tua Seira.


Yang perlu dipahami adalah adanya proses pemberian nama adat kepada kepala daerah, dalam hal ini Bupati, dengan Camat memiliki peran menjembatani proses tersebut.


Karena itu, penyebutan bahwa “Camat akan diangkat dan diberi nama” perlu dihindari apabila tidak sesuai dengan hasil rapat.


Kesalahan kecil dalam menyebutkan posisi seseorang dalam proses adat dapat mengubah makna dan menimbulkan pemahaman berbeda di tengah masyarakat.


Nilai budaya dari proses tersebut tentu harus dihormati.


Namun, penghormatan terhadap adat tidak berarti seluruh keputusan yang berkaitan dengan sumber daya alam terbebas dari pertanyaan ilmiah.


Justru adat dan ilmu pengetahuan dapat berjalan berdampingan.


Orang tua-tua menjaga nilai adat. Nelayan membawa pengetahuan laut. Peneliti membaca data. Pemerintah memastikan aturan berjalan.


Tidak perlu ada yang merasa lebih tinggi.


Semuanya mempunyai tempat.


Yang Harus Disasi Bukan Hanya Telurnya


Ini mungkin pertanyaan paling penting.


Kalau tujuan utama sasi adalah menjaga ikan terbang, maka jangan hanya bertanya bagaimana melarang pengambilan telurnya.


Tanyakan juga:


Apa yang menyebabkan telur ikan terbang berkurang?


Apakah karena jumlah bale-bale?


Apakah karena intensitas pemanenan?


Apakah karena perubahan habitat?


Apakah karena pencemaran?


Apakah karena tekanan penangkapan terhadap induk?


Atau karena kombinasi berbagai faktor?


Kalau penyebabnya tidak diketahui, maka obatnya juga belum tentu tepat.


Jangan mengobati laut dengan resep yang dibuat tanpa diagnosis.


Seira Membutuhkan Sasi yang Cerdas


Seira tidak membutuhkan sasi yang sekadar keras.


Seira membutuhkan sasi yang cerdas, adil dan dapat diuji.


Buat zona perlindungan.


Tentukan musim penutupan.


Atur jumlah bale-bale.


Tetapkan lokasi yang diperbolehkan.


Larang aktivitas yang benar-benar merusak.


Pantau telur dan populasi ikan.


Hitung dampak terhadap nelayan.


Kemudian evaluasi secara berkala.


Kalau berhasil, lanjutkan.


Kalau gagal, perbaiki.


Itulah sasi yang hidup.


Jangan Sampai Laut Selamat, Tetapi Nelayan Tersingkir


Konservasi yang baik tidak boleh membuat masyarakat pesisir menjadi korban.


Begitu pula kesejahteraan nelayan tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan sumber daya laut dieksploitasi tanpa batas.


Keduanya harus berjalan bersama.


Sebab pada akhirnya, nelayan membutuhkan ikan.


Dan ikan membutuhkan laut yang sehat.


Hubungan itu sederhana.


Karena itu, jalan keluarnya juga harus sederhana:


Lindungi laut tanpa mematikan nelayan.


Lindungi ikan tanpa menghilangkan hak masyarakat untuk hidup.


Hormati adat tanpa menutup pintu bagi ilmu pengetahuan.


Jangan Wariskan Keputusan yang Salah


Rencana sasi pada 29 September 2026 seharusnya tidak hanya dikenang sebagai sebuah seremoni adat.


Hari itu harus menjadi awal dari tata kelola laut Seira yang lebih baik.


Kalau sasi memang menjadi jalan untuk menyelamatkan ikan terbang, maka mari lakukan dengan benar.


Petakan lautnya.


Teliti ikannya.


Hitung telurnya.


Catat bale-balennya.


Dengar nelayannya.


Hormati adatnya.


Periksa dampaknya.


Dan setelah itu, buat aturan.


Bukan sebaliknya.


Sebab kesalahan dalam mengelola laut tidak selalu terlihat hari ini.


Kadang baru terasa beberapa tahun kemudian, ketika ikan semakin sulit ditemukan, nelayan kehilangan penghasilan dan generasi berikutnya bertanya mengapa laut yang dahulu memberi kehidupan kini tidak lagi sama.


Jangan sampai generasi Seira nanti menerima warisan berupa konflik karena keputusan yang hari ini dibuat tanpa kajian.


Sasi bukan musuh nelayan. Nelayan bukan musuh konservasi.


Yang harus dilawan adalah cara berpikir bahwa menjaga laut cukup dengan melarang.


Laut membutuhkan lebih dari sekadar larangan.


Laut membutuhkan pengetahuan.


Masyarakat membutuhkan kepastian.


Nelayan membutuhkan keadilan.


Dan adat membutuhkan penghormatan.


Maka, sebelum keputusan benar-benar diberlakukan, satu hal harus dipastikan:


Jangan sampai palu keputusan lebih cepat daripada hasil penelitian.


Karena ketika menyangkut masa depan laut, sebuah keputusan yang salah tidak mudah ditarik kembali.


Dan ketika ikan sudah pergi, telur sudah berkurang, serta nelayan sudah kehilangan sumber penghidupan, tidak ada seremoni yang mampu mengembalikan semuanya seperti semula.


Adat dijaga. Laut dilindungi. Telur ikan terbang dipertahankan. Nelayan diperhatikan.


Seira tidak membutuhkan sasi yang sekadar keras. Seira membutuhkan sasi yang benar. (NFB)


CATATAN REDAKSI:


Redaksi melakukan koreksi atas kesalahan informasi yang sebelumnya diterima dari informan di lapangan terkait pemberian nama adat. Camat bukan pihak yang akan diberi nama adat oleh orang tua-tua Seira, melainkan berperan menjembatani proses pemberian nama adat kepada kepala daerah, dalam hal ini Bupati Kepulauan Tanimbar. Koreksi dilakukan untuk menjaga akurasi pemberitaan dan menghindari salah tafsir.

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl