Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates
{{ date }}
{{ time }}
DIGITAL CLOCK with Vue.js

Muatan Lokal Tenun Tanimbar Masuk Kurikulum Sekolah

MALUKU - JURNALINVESTIGASI
25 Februari 2026
Last Updated 2026-02-24T17:02:49Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


Saumlaki, Jurnalinvestigasi.com - Kain Bakan dan Tais Pepete khas Kepulauan Tanimbar kini diajarkan melalui pelajaran muatan lokal di sejumlah sekolah. Program ini bertujuan menjaga keberlanjutan warisan budaya daerah di tengah perubahan sosial dan arus globalisasi.


Berdasarkan informasi yang dihimpun, pembelajaran menenun dimasukkan dalam kurikulum sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan keterampilan siswa.


Tenun ikat Tanimbar dikenal memiliki berbagai motif, seperti anggrek, burung, ular, dan buaya, yang menurut keterangan masyarakat setempat mengandung nilai filosofi kehidupan. Dalam tradisi lokal, kemampuan menenun juga dikaitkan dengan kesiapan sosial perempuan sebelum memasuki jenjang pernikahan.


Selama ini, pewarisan keterampilan menenun berlangsung melalui lingkungan keluarga, sekolah, dan balai desa. Namun, jumlah pengrajin dilaporkan mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, seiring perubahan orientasi masyarakat terhadap aktivitas ekonomi.


Program muatan lokal tersebut disusun secara bertahap. Tahapan awal meliputi proses menggulung benang, mengikat motif, pewarnaan alami, hingga teknik tenun dasar. Siswa tingkat menengah diberi kesempatan menghasilkan kain sederhana sebagai bagian dari evaluasi pembelajaran.


Model pembelajaran menggunakan pendekatan input proses output dengan alokasi sekitar 40 jam pelajaran kolaboratif antara sekolah dan pemerintah desa. Selain penguatan budaya, program ini juga diarahkan untuk membuka peluang ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.


Menurut keterangan penyelenggara pendidikan, terdapat sejumlah kendala dalam pelaksanaan, antara lain keterbatasan alat tenun, bahan baku yang sulit diperoleh, serta rendahnya minat sebagian siswa. Proses pembuatan yang relatif panjang dinilai menjadi salah satu tantangan dalam menarik partisipasi generasi muda.


Sebagai tindak lanjut, sekolah menerapkan metode pembelajaran interaktif, termasuk proyek pembuatan motif yang dikaitkan dengan cerita rakyat lokal, pameran karya siswa, serta pemberian sertifikat penghargaan. Orang tua juga dilibatkan melalui kegiatan observasi ke tempat pengrajin.


Program ini diharapkan dapat memperkuat regenerasi penenun sekaligus mendukung pengembangan ekonomi lokal berbasis budaya. Hingga berita ini diturunkan, implementasi pembelajaran masih dalam proses evaluasi dan pengembangan lebih lanjut.


Pihak terkait menyampaikan proses pelaksanaan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku. Jurnalinvestigasi.com masih menunggu perkembangan informasi lanjutan. (Blasius)

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl