Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates
{{ date }}
{{ time }}
DIGITAL CLOCK with Vue.js

SPPG Pasindangan Diduga Rekayasa Data, Chef Bersertifikat Disingkirkan

Redaktur
02 Juni 2026
Last Updated 2026-06-02T07:14:01Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


Majalengka,Media Jurnal Investigasi- Program Makan Bergizi Gratis MBG digulirkan negara dengan dana triliunan rupiah demi menyelamatkan gizi generasi penerus bangsa. Namun, hasil investigasi mendalam awak media di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG Pasindangan, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, membongkar fakta yang sungguh memualkan, mengerikan, sekaligus membuat darah mendidih. Di balik seragam rapi, gedung bersih dan laporan palsu yang selalu diklaim "berjalan baik", tersembunyi praktik pengelolaan yang busuk, kotor dan penuh rekayasa. Ini bukan lagi sekadar kejanggalan administrasi, melainkan kejahatan nyata di mana aturan negara diinjak-injak, kompetensi dibuang ke tong sampah dan yang paling biadab adalah kesehatan serta nyawa ribuan anak dipertaruhkan demi kepentingan pribadi dan nepotisme segelintir orang.


Fakta di lapangan berbicara lantang Dapur raksasa yang setiap hari memproduksi 1.836 porsi makanan itu dijalankan secara ilegal. Tenaga ahli yang satu-satunya memiliki lisensi resmi negara disingkirkan dengan cara yang sangat memalukan dan tak manusiawi. Sebagai gantinya, urusan masak-memasak yang menyangkut standar higienitas dan gizi yang ketat, diserahkan seenaknya kepada orang yang tak mengerti apa-apa, tak punya sertifikat, tak punya keahlian, dan namanya sama sekali tak tercatat secara hukum. Manajemen SPPG Pasindangan telah berani-beraninya menipu negara dan masyarakat luas dengan permainan data yang licik dan pengecut.



Dua realitas yang kontradiktif tajam terungkap nyata di hadapan mata awak media. Di lapangan, kendali penuh dapur dipegang oleh Rustinah alias Mimi, warga Desa Beber, Kecamatan Ligung. Ia bergerak bebas mengatur segala urusan pengolahan makanan seolah dialah pemilik sah, padahal di mata hukum dan administrasi Rustinah tidak ada, tidak tercatat dan tidak memiliki hak apa pun. Ia bekerja di sana bagai "hantu" yang beroperasi di balik layar, tanpa surat tugas, tanpa kontrak dan yang paling fatal adalah tanpa bukti kemampuan sedikit pun untuk menjamin makanan yang diolahnya aman dikonsumsi anak-anak.


Namun saat awak media menagih kebenaran kepada manajemen SPPG Pasindangan, Akuntan Rangga Dika Megananda dengan wajah tak berdosa membacakan kebohongan yang sudah disusun rapi. Di hadapan publik ia berani berbohong demi menutupi aib pimpinannya.


“Terkait chef Yadi yang bersangkutan masih tercatat sebagai bagian dari tenaga chef di SPPG ini sesuai data internal kami” ujar Rangga Dika Megananda dengan nada meyakinkan, didampingi Kepala SPPG Kesadaran Alawa S Kom. Pernyataan ini adalah bukti hitam di atas putih bahwa mereka sadar dan sengaja melakukan rekayasa data.


Fakta tak terbantahkan menghancurkan kebohongan itu berkeping-keping Yadi Setiawan Nugraha sudah resmi mengundurkan diri sejak 23 Mei 2026, hanya berselang dua bulan lebih 21 hari setelah ia mulai bekerja tepat pada 2 Maret 2026. Ia pergi bukan karena tak mampu melainkan karena tak sanggup lagi melihat dan mengalami semena-menanya pengelolaan yang sewenang-wenang dan penuh kecurangan.


Yang paling menjijikkan dari semua ini adalah fakta bahwa Yadi adalah Satu-satunya orang di dapur itu yang sah di mata negara. Ia memegang Sertifikat Kompetensi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi Indonesian Professional Certification Authority bukti keahlian yang diuji, diverifikasi dan diakui negara


Nomor Sertifikat : 5511.3434.4.0022141.2025

Nomor Registrasi : PAR.1302.02550.2025

Bidang Kompetensi Pengolahan Makanan & Minuman Kualifikasi Demi Chef

Diterbitkan di Depok 18 Desember 2025 berlaku 3 tahun. Lembaga Penerbit Lembaga Sertifikasi Profesi Rajawali Hospitality Nusantara


Dokumen ini adalah bukti mutlak bahwa Yadi adalah aset berharga yang wajib dijaga dan dipertahankan. Tapi apa balasan manajemen SPPG Pasindangan Ia dibuang, dikucilkan dan disingkirkan seperti sampah tak berguna. Sebagai gantinya mereka menempatkan Rustinah yang kosong kompetensi, kosong sertifikat dan kosong pemahaman. Nama Yadi sengaja dibiarkan menggantung di data administrasi hanya untuk dijadikan topeng dan kedok. Di atas kertas mereka terlihat patuh aturan, tapi di kenyataan mereka menyelundupkan tenaga ilegal dan membiarkan makanan anak-anak diolah oleh tangan yang tak teruji. Ini adalah penipuan terstruktur yang patut diadili.




Dalam wawancara khusus dengan awak media Yadi membongkar kelakuan arogan dan diktator pimpinan SPPG Pasindangan. Ia menceritakan bagaimana jabatan strategis chef dipertukarkan seenak hati tanpa prosedur tanpa etika dan tanpa rasa hormat sedikit pun terhadap aturan maupun manusia. Keputusan pergantian dijatuhkan bagai vonis raja zaman dahulu diumumkan mendadak di depan para relawan seolah nasib ribuan anak ada di ujung jari pemimpin semena-mena itu.


“Pas awalnya itu sebelum opsih hari Sabtu briefing sebelum opsih. Saya dipanggil ke depan oleh pak kepala. Biasanya saya memang sering disuruh ke depan untuk bantu ngatur kegiatan. Tapi waktu itu beda, saya langsung ditanya di depan relawan ‘'udah tau belum'’ kata kepala. Saya jawab ‘nggak tau apa pak’. Lalu kepala langsung ngumumin bahwa chefnya bakal diganti. Saya kaget karena sebelumnya tidak ada konfirmasi ke saya”, ungkap Yadi


Merasa dihina, haknya diinjak dan tak nyaman bekerja di lingkungan yang penuh ketidakjujuran, Yadi langsung angkat kaki hari itu juga. Ia menuntut agar namanya dicoret dari administrasi dan pihak manajemen dengan manis berjanji akan menghapusnya.


“Kemudian saya sore harinya saya resign, saya langsung minta SK saya dihapus di alur. Dan mereka pun mengiyakan” tambahnya.


Namun janji itu hanyalah bualan kotor. Fakta yang terungkap kemudian jauh lebih kejam Nama Yadi tetap sengaja dibiarkan tercatat. Pihak pengelola dengan licik ingin memakan dua keuntungan sekaligus Posisi strategis dapur diberikan ke orang kepercayaan atau kerabat mereka Rustinah agar bisa dikendalikan sepenuhnya, sementara laporan ke atas tetap aman dan sah karena ada nama Yadi bersertifikat yang dipajang sebagai boneka mati.


Tindakan pencatutan nama dan sertifikat ini membuat darah Yadi mendidih habis-habisan. Ia merasa hak profesionalnya dirampas, namanya dinodai dan dirinya dijadikan alat penipu. Ia berjanji tak akan membiarkan kebusukan ini berlalu begitu saja.


“Yaa keberatan atuh a, yang seharusnya hak saya malah diambil orang lain. Ya paling saya akan tuntut pertanggung jawaban nya aja a”, tegasnya dengan nada ancaman serius.


Ini adalah wajah asli pengelolaan SPPG Pasindangan penipuan berkelanjutan. Di satu sisi pura-pura suci dan patuh regulasi, di sisi lain menjalankan praktik nepotisme yang membahayakan publik.


Berdasarkan regulasi mutlak Badan Gizi Nasional ada satu garis keras yang tidak boleh dilanggar tidak boleh ditawar dan tidak boleh diabaikan yaitu Setiap SPPG wajib memiliki chef yang bersertifikat kompetensi. Aturan ini jelas menjabarkan demi menjamin keamanan pangan agar anak-anak bangsa tak keracunan, tak sakit perut dan mendapatkan gizi yang terukur benar.


Namun SPPG Pasindangan menantang negara. Mereka bertindak seolah aturan itu hanya berlaku bagi orang lain bukan bagi mereka. Tenaga berlisensi lengkap seperti Yadi dibuang ke jalanan. Kursi kekuasaan diserahkan ke tangan Rustinah yang tak punya kualifikasi apa pun. Data dipalsukan, laporan dimanipulasi dan keselamatan anak-anak dijadikan bahan percobaan sembarangan.


Saat awak media melakukan konfirmasi secara konkret dan bertanya soal kelayakan SDM yang mengolah makanan, manajemen SPPG kehabisan akal. Rangga Dika Megananda hanya bisa berkelit, memutarbalikkan fakta dan bersembunyi di balik fasilitas fisik yang sama sekali tak relevan dengan kompetensi manusia.


“Untuk Instalasi Pengolahan Air Limbah IPAL sudah ada dan berfungsi di dapur ini. Kapasitas produksi kami sekitar 1.836 porsi per hari” jawabnya mengelak, wajahnya memerah tak berani menatap mata pewawancara.


Jawaban itu adalah bukti  sekaligus kesengajaan berbuat salah. Fasilitas canggih tak ada gunanya kalau yang mengolahnya adalah orang yang tak paham bedanya standar higienis dan masakan rumahan biasa. Hingga detik ini tak ada selembar kertas pun yang bisa menunjukkan Rustinah berhak bekerja di sana. Tak ada sertifikat, tak ada SK, tak ada apa-apa. SPPG Pasindangan telah melanggar aturan negara secara terang-terangan, biadab dan sadar.


Berdasarkan seluruh hasil penelusuran lapangan, wawancara mendalam, verifikasi dokumen resmi, hingga konfirmasi langsung kepada pihak pengelola, terbukti sudah dengan kepastian 100% bahwa SPPG Pasindangan adalah institusi yang rusak total, bobrok dan penuh kecurangan.


Ada rekayasa data yang disengaja untuk menutupi penempatan tenaga kerja ilegal. Ada pembuangan tenaga ahli yang kompeten demi kepentingan kelompok tertentu. Ada pelanggaran berat terhadap standar operasional yang ditetapkan negara dan yang paling fatal ada kelalaian nyata yang membahayakan keselamatan ribuan anak penerima manfaat.


Makanan yang masuk ke perut anak-anak Majalengka setiap hari itu diduga kuat diolah oleh tangan yang tak berkompeten, tak teruji dan tak paham aturan gizi. Sementara nama orang yang berhak, berkompeten dan bersertifikat hanya dijadikan stempel palsu di atas kertas agar penipuan ini tetap berjalan mulus.


Uang negara miliaran rupiah digelontorkan, fasilitas dibangun megah, tapi ujungnya hanya menjadi alat untuk melanggengkan kekuasaan segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab.  Menyikapi kejadian tersebut apakah pihak-pihak terkait akan diam sebagai bentuk pembiaran? 



(Tim)

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl