Bantuan tersebut diarahkan untuk penataan dan peningkatan sejumlah fasilitas sekolah, meliputi rehabilitasi dua ruang kelas, pembangunan/penataan satu gedung perpustakaan, satu toilet, pemagaran lingkungan sekolah, serta pekerjaan paving block.
Kepala SDN Bayureja, Nanang Rahdiana, S.Pd., menyampaikan bahwa bantuan revitalisasi tersebut menjadi angin segar bagi sekolah dalam meningkatkan kualitas fasilitas pendidikan.
Saat ini, SDN Bayureja memiliki sekitar 140 peserta didik yang terbagi dalam enam rombongan belajar (rombel). Sementara tenaga pendidik dan kependidikan berjumlah sembilan orang, yang terdiri dari unsur ASN, PPPK, dan tenaga sukarelawan.
Dalam pelaksanaan program revitalisasi, sekolah juga telah membentuk susunan Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP). Kepanitiaan tersebut diketuai Eron Sahron, S.P., dengan Ahmadi, S.Pd. sebagai sekretaris dan Susilawati Kurnia, S.Pd. sebagai bendahara.
Menurut Nanang, sebelumnya pihak sekolah pernah mengusulkan pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) untuk menjawab kebutuhan sarana pembelajaran. Namun, berdasarkan informasi yang diterima dari kementerian terkait, program bantuan RKB tersebut belum tersedia.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan pengembangan sarana sekolah masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian secara berkelanjutan.
"Alhamdulillah, sekarang kami mendapat bantuan revitalisasi. Kami sangat bersyukur karena sejumlah fasilitas sekolah dapat diperbaiki dan ditata sehingga diharapkan memberikan kenyamanan bagi siswa maupun guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar," ujar Nanang.
Namun demikian, kebutuhan SDN Bayureja tidak berhenti pada rehabilitasi fasilitas yang saat ini dikerjakan. Sekolah masih berharap adanya dukungan pemerintah untuk pembangunan laboratorium Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Keberadaan laboratorium dinilai penting untuk menunjang pembelajaran berbasis praktik sehingga siswa tidak hanya memperoleh pemahaman secara teori, tetapi juga memiliki kesempatan melakukan eksperimen dan mengenal pembelajaran IPA secara lebih konkret.
"Kami sangat berharap ke depan mendapat bantuan pemerintah untuk pembangunan laboratorium IPA. Fasilitas tersebut sangat dibutuhkan untuk menunjang kegiatan praktik siswa," harapnya.
Revitalisasi Diharapkan Angkat Prestasi Siswa
Selain pembenahan sarana, SDN Bayureja juga memiliki catatan prestasi di bidang olahraga. Pada periode sekitar 2005 hingga 2010, siswa SDN Bayureja cukup menonjol dalam cabang olahraga seperti bola voli dan sepak bola, bahkan mampu berprestasi hingga tingkat kecamatan dan kabupaten.
Sementara dalam beberapa tahun terakhir, prestasi yang mulai menonjol adalah cabang atletik Kid, yang telah mampu membawa nama sekolah hingga tingkat kabupaten.
Pihak sekolah berharap peningkatan kualitas sarana dan lingkungan pendidikan melalui program revitalisasi dapat menjadi salah satu pemicu lahirnya prestasi-prestasi baru.
"Kami berharap dengan adanya bantuan revitalisasi ini, fasilitas sekolah semakin baik dan dapat memicu semangat seluruh warga sekolah untuk meningkatkan prestasi, baik di bidang akademik maupun nonakademik," ungkap Nanang.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah atas perhatian yang diberikan kepada SDN Bayureja, sekaligus kepada insan media yang turut mengawal dan menyuarakan berbagai kebutuhan dunia pendidikan.
"Terima kasih saya haturkan kepada media JITV dan Metro Jabar, khususnya kepada pemerintah yang telah memberikan bantuan revitalisasi untuk rehabilitasi dua ruang kelas, satu gedung perpustakaan, satu toilet, paving block dan pemagaran. Mudah-mudahan ini bisa memicu dunia pendidikan, khususnya SDN Bayureja, agar bisa lebih maju," tuturnya.
Program revitalisasi tersebut pada akhirnya bukan sekadar persoalan memperbaiki bangunan sekolah. Lebih dari itu, peningkatan fasilitas pendidikan merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan ruang belajar yang layak sekaligus membuka peluang lebih besar bagi siswa untuk berkembang dan berprestasi.
Dengan dukungan pemerintah yang berkelanjutan, kebutuhan sarana yang masih belum terpenuhi—termasuk laboratorium IPA—diharapkan dapat menjadi perhatian berikutnya. Sebab, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran, tetapi juga oleh tersedianya fasilitas yang mampu menopang proses tersebut secara optimal. (Bang Eful/H.Didi)


