Media Jurnal Investigasi, Nabire, Papua Tengah— Kepulan asap tebal sempat menyelimuti kawasan dekat Sekolah Menara Ilmu, Kampung Kalisemen, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Sabtu (3/10/2026) siang.
Kebakaran melanda lahan milik warga yang berada tidak jauh dari kawasan sekolah dan permukiman. Kobaran api diperkirakan mulai terjadi sekitar pukul 13.00 WIT.
Melihat api berpotensi merambat akibat kondisi cuaca panas, kering dan hembusan angin, personel Polres Nabire dan Polsek Nabire Barat bersama masyarakat langsung bergerak melakukan pemadaman.
Plt. Kabid Humas Polda Papua Tengah, Kompol Henry J. Manurung, mengatakan tindakan cepat dilakukan untuk mencegah api menjalar ke kawasan sekolah maupun permukiman warga.
“Personel bersama masyarakat bergerak cepat melakukan pemadaman untuk mencegah api meluas ke kawasan sekolah dan permukiman warga,” kata Henry.
Pemadaman juga melibatkan Tim Pemadam Kebakaran Provinsi Papua Tengah yang mengerahkan satu unit mobil pemadam. Polres Nabire turut menurunkan satu unit mobil pemadam, sementara personel kepolisian dan masyarakat membantu dengan peralatan manual.
Selama kurang lebih dua jam, petugas dan warga berjibaku mengendalikan kobaran api. Upaya tersebut akhirnya berhasil memutus perambatan api dan memadamkan kebakaran.
“Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar satu hektare. Api berhasil dipadamkan dan setelah itu personel melakukan pemantauan untuk memastikan tidak ada lagi titik api maupun bara yang berpotensi kembali menyala,” jelas Henry.
Tidak ada korban jiwa maupun bangunan yang terbakar dalam peristiwa tersebut. Namun, lahan milik warga di sekitar sekolah dan permukiman mengalami kerusakan akibat dilalap api.
Henry mengatakan kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Suhu panas, kondisi lahan yang kering dan angin kencang dapat mempercepat perambatan api, terutama pada wilayah yang dipenuhi semak maupun vegetasi kering.
“Kondisi cuaca panas, kering dan angin kencang dapat mempercepat perambatan api. Karena itu, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran,” ujarnya.
Meski demikian, kepolisian masih membuka kemungkinan adanya faktor aktivitas manusia sebagai pemicu kebakaran. Di antaranya pembakaran lahan, kelalaian saat menggunakan sumber api hingga membuang benda yang masih memiliki bara.
Polisi mengingatkan bahwa kondisi lahan kering dapat membuat api dengan cepat menyebar dan memunculkan titik api baru.
“Apabila kondisi panas dan kering disertai angin kencang masih berlangsung, potensi munculnya titik api baru tetap tinggi, terutama di lahan kosong, semak belukar, perkebunan maupun kawasan yang memiliki vegetasi kering,” ungkap Henry.
Usai api berhasil dipadamkan, personel Polsek Nabire Barat juga memberikan imbauan kepada masyarakat sekitar agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membakar lahan. Jika melihat adanya titik api atau kebakaran, segera laporkan kepada aparat agar dapat ditangani secepat mungkin sebelum meluas,” kata Henry.
Polda Papua Tengah bersama jajaran Polres dan Polsek, lanjut Henry, akan terus meningkatkan patroli, pemantauan dan edukasi kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Pencegahan menjadi tanggung jawab bersama. Kepolisian akan terus melakukan pemantauan dan patroli, namun peran masyarakat sangat penting untuk mencegah munculnya kebakaran baru,” pungkasnya. ( FNS ).



