Majalengka, Media Jurnal Investigasi– Peluit yang biasa terdengar tegas di Terminal Cideres, siang itu seolah menyimpan cerita.
Bukan tentang lalu lintas, melainkan tentang hati-hati yang lelah namun tetap setia melayani.
Di sudut terminal yang sederhana, Ketua Komisi III DPRD Majalengka, H. Iing Misbahuddin, SM, berhenti sejenak. Bukan untuk agenda resmi, bukan pula seremonial. Ia datang untuk satu hal yang kian langka: mendengar.
Percakapan santai dengan para petugas Dinas Perhubungan perlahan berubah menjadi ruang kejujuran.
Satu per satu suara mengalir, hingga akhirnya tersisa satu kenyataan yang paling berat diungkapkan—honor yang harus dirapel setiap tiga bulan sekali.
Sebuah luka sunyi yang selama ini dipendam demi tugas dan pengabdian.
Mereka tetap berdiri di tengah terik dan hujan, mengatur arus kendaraan, menjaga ketertiban, meski hak mereka sendiri harus menunggu waktu yang panjang untuk dipenuhi.
“Pelayanan yang baik lahir dari hati yang tenang. Dan hati yang tenang hanya bisa hadir jika keadilan dirasakan,” ujar H. Iing, Rabu (28/1/2026), dengan nada penuh empati.
Baginya, kesejahteraan petugas bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan soal martabat.
Ia pun berjanji akan membawa suara-suara ini ke ruang rapat bersama dinas terkait. Insya Allah, amanah ini akan diperjuangkan, bukan dibiarkan larut dalam sunyi.
Perhatian tak berhenti pada kesejahteraan.
Tatapan H. Iing juga tertuju pada wajah Terminal Cideres yang kian redup.
Ia mendorong revitalisasi agar terminal kembali hidup—menjadi ruang yang layak, aman, dan mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat Kadipaten dan sekitarnya.
Di Terminal Cideres, siang itu, peluit tetap berbunyi. Namun ada harapan yang ikut bergetar—harapan bahwa jerih payah tak lagi diabaikan, dan suara kecil tak lagi tenggelam. Wakil rakyat telah mendengar. Kini, janji untuk memperjuangkan pun telah terucap. (*)

