Saumlaki, Jurnalinvestigasi.com - Pembangunan jembatan beton menuju Gereja Santa Maria Imakulata Wowonda kembali menjadi perhatian publik setelah muncul klarifikasi atas penyebutan nama pastor dan gereja dalam pemberitaan sebelumnya. Klarifikasi ini diperlukan untuk meluruskan konteks dan memastikan informasi tersaji secara berimbang.
Berdasarkan penelusuran redaksi, jembatan yang selama ini digunakan warga Desa Wowonda berada dalam kondisi tidak layak dan berisiko. Meski demikian, akses tersebut tetap dilalui masyarakat karena menjadi jalur utama dan tidak tersedia alternatif lain.
Jembatan tersebut kerap digunakan warga untuk berbagai aktivitas, mulai dari kegiatan keagamaan hingga urusan sosial sehari-hari. Dalam kondisi tertentu, terutama saat hujan, akses itu dinilai rawan bagi keselamatan pengguna.
Kondisi inilah yang mendorong Moses Maresyembun, S.Ap, seorang aparatur sipil negara, mengambil langkah secara pribadi. Ia menginisiasi pembangunan jembatan permanen berbahan beton demi menjamin keamanan akses warga.
Pembangunan tersebut, menurut keterangan yang diterima redaksi, tidak masuk dalam program Pemerintah Desa Wowonda. Seluruh proses dilakukan di luar mekanisme anggaran desa dan tidak menggunakan dana publik desa.
Dalam klarifikasi yang disampaikan kepada wartawan, Moses menegaskan bahwa penyebutan nama pastor dan gereja sebelumnya tidak dimaksudkan sebagai bentuk keterlibatan keagamaan. Ia menyatakan gereja tidak terlibat secara kelembagaan dalam pembangunan jembatan itu.
Moses juga menjelaskan bahwa setiap bantuan atau dukungan yang diberikan berasal dari individu secara pribadi. Bantuan tersebut tidak membawa nama gereja maupun lembaga keagamaan.
“Semua yang membantu melakukannya atas nama pribadi, bukan institusi,” ujar Moses saat dimintai penjelasan terkait hal tersebut.
Redaksi Jurnalininstigasi.com memastikan bahwa pembangunan jembatan digerakkan sepenuhnya oleh Moses Maresyembun secara personal. Partisipasi warga hadir dalam bentuk gotong royong, tanpa adanya struktur kepanitiaan resmi yang mengatasnamakan gereja.
Di lapangan, material pembangunan jembatan beton telah tersedia dan dikumpulkan di sekitar lokasi. Tahap persiapan ini menandai kesiapan awal sebelum pekerjaan fisik dimulai.
Pekerjaan pembangunan direncanakan segera dilaksanakan dalam waktu dekat. Fokus utama pengerjaan adalah memastikan akses yang aman dan layak bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sejumlah warga mengungkapkan bahwa selama bertahun-tahun mereka melintasi jembatan lama dengan rasa waswas. Kondisi tersebut dirasakan semakin berbahaya ketika musim hujan tiba.
Anak-anak dan warga lanjut usia disebut menjadi kelompok yang paling rentan saat melintasi jembatan lama. Karena itu, pembangunan jembatan baru dinilai sebagai kebutuhan mendesak oleh masyarakat setempat.
Sementara itu, hingga proses persiapan berlangsung, belum terdapat informasi mengenai keterlibatan atau dukungan anggaran dari Pemerintah Desa Wowonda. Pemerintah desa juga belum memberikan keterangan resmi terkait penanganan jembatan sebelumnya.
Hingga berita ini diturunkan, Redaksi Jurnalinvestigasi.com tetap membuka ruang klarifikasi bagi semua pihak terkait, termasuk Pemerintah Desa Wowonda, demi menjaga pemberitaan tetap berimbang, akurat, serta sesuai dengan prinsip etika dan hukum pers. (Nik Besitimur)


