Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates
{{ date }}
{{ time }}
DIGITAL CLOCK with Vue.js

HPN 2026: Jika Pers Tak Lagi Kritis, Siapa Lagi yang Membela Publik?

Bang Eful
09 Februari 2026
Last Updated 2026-02-09T09:59:40Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

Oleh: Saeful Misbah (Bang Eful), Koordinator Reporter JITV – JurnalInvestigasi.com


Majalengka, Jurnal Investigasi.Com

Setiap 9 Februari, ucapan “Selamat Hari Pers Nasional” ramai berseliweran. Spanduk terpasang, seremoni digelar, pidato dibacakan. Tapi pertanyaannya sederhana: apakah pers kita benar-benar sehat, atau hanya terlihat baik di permukaan?

Tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat” seharusnya bukan slogan kosong. Ia adalah peringatan keras. Sebab tanpa pers yang sehat dan kritis, mustahil bangsa ini benar-benar kuat.

Bangsa yang kuat lahir dari kebenaran.

Dan kebenaran hanya hidup jika pers berani.

Di lapangan, kami merasakan sendiri bahwa kerja jurnalistik hari ini tidak mudah. Tekanan datang dari banyak arah. Ada kepentingan yang ingin dilindungi, ada kritik yang ingin dibungkam, ada fakta yang ingin disembunyikan.

Tak jarang, wartawan diminta melunak.

Tak jarang pula berita diharapkan jangan terlalu tajam.

Padahal tugas pers justru sebaliknya: tajam pada fakta, tegas pada kebenaran.

Sebagai Koordinator Reporter JITV – JurnalInvestigasi.com, saya menyaksikan langsung bagaimana rekan-rekan jurnalis bekerja tanpa banyak keluhan. Menembus hujan, panas, dan risiko di lapangan demi satu hal sederhana: masyarakat berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Karena sekali pers takut bersuara, di situlah rakyat kehilangan pembela.

Hari ini tantangan makin berat. Hoaks menyebar lebih cepat dari berita terverifikasi. Sensasi lebih laku daripada akurasi. Jika pers ikut terseret arus klik dan popularitas, maka jurnalisme kehilangan martabatnya.

Pers bukan mesin konten.

Pers adalah penjaga akal sehat publik.

Di Majalengka, kami melihat sendiri bagaimana berita bisa mengubah keadaan. Keluhan warga didengar setelah diberitakan. Kebijakan dibenahi setelah dikritisi. Itulah bukti, pers masih punya daya.

Karena kekuasaan yang tak diawasi cenderung sewenang-wenang.

Dan rakyat yang tak bersuara akan terus diabaikan.

Maka bagi saya, pers yang sehat bukan yang selalu memuji, tapi yang berani mengoreksi. Bukan yang dekat dengan kekuasaan, tapi yang setia di sisi masyarakat.

HPN bukan sekadar perayaan profesi. Ini sumpah moral.

Bahwa kami akan tetap menulis meski ditekan.

Tetap bertanya meski tak disukai.

Tetap kritis meski sendirian.

Sebab lebih baik dimusuhi karena kebenaran,

daripada dipuji karena diam.

Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari 2026.

Selama masih ada ketidakadilan, pers tidak boleh istirahat.

Dan selama nurani masih hidup, kami akan terus menulis. (Bang Eful) 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl