Majalengka, Media Jurnal Investigasi- Komisi III DPRD majalengka melakukan sidak ke kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Majalengka, kunjungan kerja tersebut minimnya fasilitas penunjang operasional DLH yang dinilai tidak sebanding dengan beban kerja penanganan sampah dan lingkungan di Majalengka yang terus meningkat setiap tahun."Pada Rabu (13/05/2026).
Ketua Komisi III DPRD Majalengka H. Iing Misbahuddin, SM, SH membeberkan berbagai kendala yang selama ini dihadapi instansinya. Mulai dari armada pengangkut sampah yang terbatas, kendaraan operasional yang mulai rusak, hingga laboratorium lingkungan yang sampai sekarang belum berfungsi.
Temuan itu memantik perhatian serius Komisi III DPRD. Sebab, di tengah meningkatnya volume sampah dan perluasan kawasan perkotaan, fasilitas dasar DLH justru dinilai masih jauh dari memadai.
Sorotan paling tajam tertuju pada kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA). DPRD menilai sistem pengelolaan sampah masih membutuhkan pembenahan besar, terutama target penerapan sistem landfill yang harus terealisasi pada 2026.
Jika tidak segera dilakukan, persoalan kapasitas dan tata kelola TPA dikhawatirkan memicu masalah lingkungan yang lebih besar di masa mendatang.
Tak hanya itu, Komisi III juga menemukan fakta minimnya sarana pemeliharaan taman dan ruang terbuka hijau. Kendaraan penyiram taman yang dimiliki DLH disebut hanya satu unit, sementara cakupan wilayah pemeliharaan terus bertambah.
Di sisi lain, laboratorium lingkungan yang belum aktif dinilai menjadi titik lemah pengawasan kualitas lingkungan hidup di Majalengka. Padahal fasilitas tersebut memiliki peran penting dalam pengawasan limbah dan potensi pencemaran.
Dalam pembahasan itu, Komisi III DPRD memastikan akan mendorong dukungan anggaran untuk perbaikan kontainer sampah rusak melalui workshop DLH yang kini mulai berjalan. Namun DPRD juga mengakui kemampuan APBD Majalengka masih terbatas untuk menutup seluruh kebutuhan sektor lingkungan.
Karena itu, Komisi III bersama DLH kini mulai membuka opsi mencari bantuan pendanaan dari pemerintah pusat maupun sumber eksternal lainnya.
Kunjungan tersebut sekaligus membuka fakta bahwa beban kerja DLH semakin meluas. Tidak hanya menangani persoalan sampah rumah tangga, tetapi juga limbah, kebersihan kota, hingga pemeliharaan taman baru di sejumlah kawasan Majalengka.
Komisi III DPRD menilai, tanpa penguatan fasilitas dan dukungan anggaran yang serius, ancaman krisis lingkungan di Majalengka bukan lagi sekadar peringatan, melainkan persoalan yang tinggal menunggu waktu.
Sementara itu, Kepala DLH Majalengka, Wawan Sarwanto, tak menampik kondisi itu. Beberapa armada memang sudah mendekati masa afkir. Bahasa halus dari "ya memang sudah waktunya pensiun.
"Apalagi DLH kini juga mengurus pertamanan. Tapi kendaraan penyiram taman Hanya satu unit. Bayangkan satu mobil untuk urusan yang mestinya membuat kota terlihat "lebih hijau dan lebih enak dilihat. "Ucapnya
Wawan Sarwanto mengatakan di pasar-pasar, kontainer sampah juga tak luput dari cerita. Di Cigasong misalnya, ada yang rusak. DLH mengaku perbaikan mulai dilakukan setelah ada dukungan anggaran.
Di tengah semua itu, ada satu hal yang terdengar sederhana tapi sebenarnya paling sulit: perubahan perilaku masyarakat.mengingatkan agar sampah dipilah dari rumah. Yang bisa dijual, dijual. Yang bisa didaur ulang, jangan langsung dibuang.
"Karena pada akhirnya, persoalan sampah bukan cuma soal truk yang kurang atau anggaran yang kecil, tapi juga soal kebiasaan yang sering dianggap sepele sampai akhirnya jadi masalah besar di TPA." Ujar Wawan Sarwanto.


