MAJALENGKA, Media Jurnal Investigasi- Fenomena maraknya Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian (DFK) di media sosial kini dinilai telah merambah dan mengganggu stabilitas kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Menanggapi keresahan warga, Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Jefry Romdonny menggelar kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bertajuk benteng moral digital di Hotel Garden Majalengka, Jawa Barat, Sabtu (20/6/2026).
Dalam sosialisasi yang dihadiri oleh ratusan tokoh masyarakat, pemuda Karang Taruna, dan tenaga pendidik se-Kabupaten Majalengka tersebut, maraknya penyebaran hoaks serta konten manipulatif di platform digital menjadi topik utama yang dikeluhkan oleh warga.
Warga mengeluhkan bahwa maraknya ujaran kebencian dan kabar bohong tidak hanya memicu perdebatan di dunia maya, tetapi juga mulai berdampak nyata pada hubungan kemasyarakatan. Mulai dari timbulnya kecurigaan antarwarga, keresahan terkait isu bantuan sosial, hingga maraknya modus penipuan digital yang menyasar warga pedesaan.
”DFK di media sosial bukan lagi sekadar persoalan dunia maya, melainkan sudah menjadi ancaman nyata bagi ketenteraman dan keharmonisan hidup bermasyarakat. Nilai-nilai Pancasila dan persatuan harus kita jadikan filter utama dalam menyaring setiap informasi sebelum dibagikan," ujar Anggota MPR RI Dapil Jawa Barat IX dalam pemaparannya.
Dampak Nyata DFK pada Kehidupan Sehari-hari
Berdasarkan dialog interaktif bersama warga Majalengka, terdapat beberapa dampak utama dari fenomena DFK yang dirasakan masyarakat, yaitu, pertama, renggangnya hubungan sosial akibat penyebaran narasi provokatif memicu prasangka buruk dan polarisasi di lingkungan pemukiman warga.
Kedua, terjadi keresahan ekonomi & keamanan, karena fitnah mengenai kebijakan publik serta penipuan berkedok bantuan sosial merugikan warga secara finansial.
Ketiga, rendahnya verifikasi informasi di masyarakat. Ini dapat dilihat dari mudah terpancing judul sensasional (clickbait) tanpa melakukan verifikasi (saring sebelum sharing).
Langkah Konkret dan Rekomendasi Penanganan
Sebagai langkah tindak lanjut dari penyerapan aspirasi ini, Jefry, menegaskan komitmennya untuk membawa permasalahan ini ke tingkat pusat dan mendorong sejumlah solusi nyata, yaitu dengan penguatan edukasi digital: Mendorong Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk memperluas program edukasi literasi digital hingga tingkat desa/kelurahan.
Kedua, pembentukan komunitas pemuda Anti-DFK dengan mengajak elemen Karang Taruna dan mahasiswa di Majalengka untuk menjadi agen verifikasi informasi di tingkat lokal.
Ketiga, peran tokoh masyarakat, tokoh agama dan masyarakat untuk aktif menyebarkan pesan-pesan kesejukan dan ketahanan moral di ruang publik maupun platform digital.
Kegiatan sosialisasi diakhiri dengan komitmen bersama warga Majalengka untuk bijak ber-media sosial demi menjaga iklim digital yang sehat, aman, dan menyatukan.
Ganjar


