EDITORIAL-Tanggal 11 Februari bukan sekadar penanda kalender bagi masyarakat Majalengka. Tanggal ini adalah jejak sejarah, titik awal perjalanan panjang sebuah daerah yang hari tanggal 11 februari 2026 nanti genap berusia 186 tahun. Sejak ditetapkan sebagai Hari Jadi Majalengka, 11 Februari menjadi momentum refleksi atas perjalanan masa lalu, sekaligus penguat tekad menatap masa depan.
Dalam rentang hampir dua abad, Majalengka telah melewati berbagai fase sejarah dari masa pemerintahan kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga era otonomi daerah dan modernisasi. Daerah ini tumbuh dari wilayah agraris dengan budaya gotong royong yang kuat, menjadi kawasan strategis yang kini terhubung dengan arus pembangunan nasional.
Namun, sejarah mengajarkan satu hal penting: kemajuan sejati tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, melainkan dari sejauh mana kesejahteraan rakyat dapat dirasakan secara adil dan merata.
Pada usia ke-186 ini, Majalengka berada di persimpangan penting. Kehadiran infrastruktur besar seperti bandara internasional, jalan tol, bendungan, dan kawasan industri membawa peluang sekaligus tantangan. Perubahan tidak dapat dihindari, tetapi arah perubahan harus ditentukan dengan bijaksana.
Di bawah kepemimpinan Bupati Majalengka, Drs. H. Eman Suherman, MM, arah pembangunan ditegaskan melalui visi Majalengka Langkung SAE. Sebuah komitmen untuk menghadirkan pembangunan yang lebih baik, lebih adil, dan lebih berpihak pada kepentingan masyarakat luas.
Majalengka Langkung SAE dimaknai sebagai pembangunan yang tidak tercerabut dari akar sejarah dan kearifan lokal. Pemberdayaan ekonomi rakyat, penguatan desa, perhatian pada sektor pertanian, UMKM, pendidikan, serta pelayanan publik menjadi fondasi utama dalam upaya mewujudkan Majalengka yang maju namun tetap berkarakter.
Momentum Hari Jadi Majalengka ke-186, 11 Februari, seharusnya menjadi ruang perenungan bersama. Bahwa Majalengka dibangun bukan hanya oleh kebijakan dan anggaran, tetapi oleh nilai kebersamaan, kerja keras, dan keberanian para pemimpin serta masyarakatnya dalam menjaga arah pembangunan.
Hari jadi bukan semata perayaan seremonial. Ia adalah pengingat akan tanggung jawab kolektif pemerintah, pemimpin, dan seluruh elemen masyarakat untuk memastikan bahwa kemajuan yang dicapai hari ini tidak mengorbankan masa depan.
Di usia ke-186 tahun ini, Majalengka diharapkan terus melangkah dengan pijakan sejarah yang kokoh dan pandangan jauh ke depan. Dengan kepemimpinan yang berpihak pada rakyat dan semangat Majalengka Langkung SAE, cita-cita Majalengka yang mandiri, sejahtera, dan bermartabat bukanlah sesuatu yang utopis, melainkan tujuan yang terus diperjuangkan bersama.
Dirgahayu Majalengka ke-186.
11 Februari, sejarah berpijak, masa depan digerakkan.
(Penulis adalah Redaktur Pelaksana Media Jurn
al Investigasi/M.Rachmat Saputra )


