Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates
{{ date }}
{{ time }}
DIGITAL CLOCK with Vue.js

Modernisasi Panen Padi di Indramayu Sisakan Dampak Sosial bagi Buruh Tani

ade nur
09 Mei 2026
Last Updated 2026-05-09T12:19:59Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


Indramayu, Media Jurnal Investigasi - 09 Mei 2026, Perkembangan teknologi pertanian di Kabupaten Indramayu terus mengalami kemajuan. Sistem panen padi yang sebelumnya dilakukan secara manual menggunakan metode gebot, kemudian berkembang memakai mesin grabagan, kini mulai banyak beralih ke penggunaan mesin Combine Harvester atau komben yang dinilai lebih cepat dan efisien.


Penggunaan mesin komben mulai diminati sebagian besar petani karena mampu mempercepat proses panen serta menghasilkan kualitas gabah yang lebih baik. Selain itu, harga jual hasil panen dinilai lebih tinggi dibandingkan menggunakan metode manual maupun mesin grabagan.


Salah seorang petani pengguna mesin komben mengatakan, penggunaan alat modern tersebut membuat proses panen lebih praktis dan menghemat waktu kerja di sawah.


“Memanen padi menggunakan alat komben lebih cepat, hasilnya bagus dan harga jual padi lebih mahal dibandingkan dengan gebot maupun mesin grabagan,” ujarnya.


Meski biaya penggunaan mesin komben terbilang lebih mahal, petani menilai hasil yang diperoleh sebanding. Untuk satu bau sawah atau sekitar 7.000 meter persegi, biaya panen menggunakan komben mencapai sekitar Rp2,7 juta bersih. Sementara penggunaan mesin grabagan berkisar Rp1,4 juta, namun masih harus ditambah biaya bawon atau catu bagi para pekerja pemotong padi.


Selain dianggap lebih efisien, penggunaan mesin komben juga dinilai mampu menjaga kualitas hasil panen. Berbeda dengan sistem grabagan yang membutuhkan waktu lebih lama setelah proses pemotongan padi dilakukan. Kondisi tersebut kerap membuat gabah menurun kualitasnya, terlebih saat turun hujan dan padi yang telah dipotong terendam air.


Namun di balik keuntungan penggunaan alat modern tersebut, muncul dampak sosial bagi buruh tani yang selama ini menggantungkan penghasilan dari pekerjaan memotong padi atau derep. Kehadiran mesin komben membuat kebutuhan tenaga kerja saat musim panen semakin berkurang.


Salah seorang buruh tani mengaku penghasilannya menurun sejak penggunaan mesin komben semakin meluas di kalangan petani.


“Waktu belum ada komben, musim panen kami selalu dapat penghasilan bawon yang banyak dari hasil memotong padi. Tapi setelah ada komben, penghasilan kami berkurang. Jangankan untuk menyimpan buat kebutuhan ke depan, untuk hari ini saja sudah habis,” ungkapnya.


Hingga kini, belum ada solusi konkret untuk mengatasi dampak berkurangnya lapangan pekerjaan bagi para buruh tani akibat modernisasi alat panen pertanian tersebut. Sejumlah warga berharap adanya perhatian dari pemerintah maupun pihak terkait agar kemajuan teknologi di sektor pertanian tetap dapat berjalan tanpa mengesampingkan kesejahteraan masyarakat kecil.

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl